Pagi itu,
Ayam diatas pohon lontar belum juga bersuara,
Jangkrik masih saja memberi pesan-pesan terakhir sebelum mentari sebelum mentari mengakiri malam manis mereka.
Suara gesekan batu asah dan parang sudah terdengar sedari tadi,dibelakang rumah, dibawa pondok beratap daun kelapa.
Seperti biasa, kali ini bapa kembali mengantar kopra dipasar.
Dengan membelah hutan, bapa harus naik turun bukit untuk sampai dipasar.
Sio bapa e..
Sudah lima jam bapa duduk menjaga 3 karung berisi kopra.
Tawaran sering datang, Namun itu diluar akal kemanusiaan untuk sebuah hasil jerih paya.
Sedari tadi bapa hanya menerima tawaran tiga ribu perkilo yang sempat ditawar oleh boss berdasi dengan mengenakan sepatu seharga ratusan ribu rupiah.
Ditengah hiruk pikuk pasar.
Datanglah seorang boss dengan mobil mewahnya
Harapan bapa kembali tumbuh untuk memnuhi mimpi anaknya.
Empat ribu perkilo beta ambil semua.
Kata boss itu kepada bapa.
Sambil mengelus dada dan menuntut keadilan pada Tuhan, bapa mengiyakan demi membawa segenggam beras untuk keluarganya dirumah.
Sio bapa e..
Andai daging kelapa itu seperti biji mutiara, bapa tidak susah-susah lagi cari uang.
Sayang.
Laut kita hanya memberi setitik napas pada ikan tongkol untuk menyambung hidup,
Karena tuna dan ikan-ikan lain diambil oleh boss dengan boat besarnya.
Sio bapa e,
Apa daya hutan-hutan kita dibabat dan musang yang menjadi sahabat kita berlari tanpa rumah.
Gunung hanya memberi kita kelapa.
Sedangkan emas digalih dan diambil oleh boss besar digedung putih
Wangi cendana dalam larutan hanha bisa dihirup oleh boss berdasi yang baru keluar dari mobil mewahnya itu.
Dan kita bapa.
Kita hanya mendapat setumpuk sabut kelapa untuk membakar ubi sembari mengeringkan kopra diatas bale-bale bambu.
Sio bapa e,
#EDo-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar