Nyawa manusia bukan tragedi tontotan dan statistik belaka, ya, lebih baik tidak berangkat terbang daripada tidak pernah tiba."
Demikian motivasi hidup yang dimiliki oleh bayu ketika pertama kali merantau,
Mengaduh nasib dinegri orang.
Kesehariannya dibilang cukup rumit.
Namun semua itu tidak pernah terlihat dibalik senyumnya, meskipun kita tau bahwa senyum itu hanya untuk menutupi luka dan lebam yang dirasainnya.
Bermodalkan nekad dan keterpurukan itu dia berusaha bangkit.
Mencoba menerobos setiap pagar penghalang, yang hanya ingin bertujuan sukses dikemudian hari.
Mencari pekerjaan adalah langka awal baginya untuk mempertahankan hidup.
Terlalu banyak instansi yang telah dia kunjungi hanya untuk mengantarkan surat lamaran kerja.
Namun hingga tiga bulan tak ada jawaban dan kepastian dari hasil surat tersebut.
Nasib malang malah menghantuinya.
Sakit kronis yang bertamu pada dirinya seakan memukul batinnya.
Segalahnya semakin tambah rumit.
Mau bangkit dan melawan?
Penyakit itu malah tambah parah.
Diam dan bisu ditempat?
Mungkin hidupnya hanya sampai disitu.
Begitulah yang tiap hari selalu ada dalam pikirannya.
Memukul dan perlahan mulai menggerogoti dirinya.
Setelah dua minggu terbaring lemah diatas kasur kumu miliknya, ia seakan tak percaya.
Memang benar Tuhan itu selalu ada buat orang lemah.
Ia ditawarkan bekerja sebagai security disebuah ruko ternama dekat daerah tenmpat tinggalnya.
Meskipun masih lemah ia harus bangun.
Kadang tak tegah melihat penyakitnya makin disakiti oleh kerjaanya.
"Aku kuat ko, Aku tidak apa apa,
Aku sudah sembuh. "
Itulah kata yang aku dengar dari bibir layunya yang sempat termakan sakitnya.
Ya, mungkin benar tetapi lebih banyak tidak.
Itu hanya cara untuk menutupi lukanya.
Agar terlihat kuat dan biasa saja seperti hari hari sebelumnya.
Tak pernah mengenal ksih sayang dari orang tua semasa kecilnya hingga sekarang seakan membuat dia tak heran dengan keadaan yang dia alami sekarang.
Ah, susah itu bias!
Aku sudah mengalaminya sejak masuk usia SD.
Sungguh,
Bukan lagi malang melainkan keji yang dia alami.
Bermodal gaji Rp. 600.000 diawal masa kerjanya,ia harus pintar pintar mengatur penghasilannya itu.
Mulai dari bayar kos, uang makan dan uang untuk membeli obat untuk penyakitnya mengharuskan dia untuk mulai hidup hemat.
Tak pernah makan enak.
Ah, sudah biasa katanya.
Namun penyakitnya menolak dengan ungkapan itu.
Tapi ia harus melawan.
Tidak akan cukup uang tersebut untuk memenuhi janji makanan pada penyakitnya itu.
Kesehariannya banyak ditemani oleh kerjaaan dan buku yang ia bawa dari kampung.
Menulis adalah hal yang ia lakukan untuk mencari kesibukan bila lapar itu datang menyapanya.
"Eh, Puisi lu kan banyak.
Kirim aja di tempat kerjaan gue,
Siapa tau diliput dan bisa menghasilkan uang".
Begitu kata temannya ketika membuka buku kusutnya yang dipenuhi coretan puisi itu.
Dia mulai mencoba mengirim hasil tulisan itu.
Pertama, tulisannya tidak masuk dalam nominasi namun ia berhasil mendapat uang santunan sebesar 100 ribu.
"Ah lumayan buat uang makan seminggu ".
Demikian katanya.
Kesehariannya selalu disibukan dengan buku tulis tersebut.
Ia terus mencoba mengirim karya tulisnya.
Dan sering mendapat posisi 5 besar.
Dari tulisan dan keuletan itu, ia akirnya dipanggil untuk bekerja dikantor majalah tersebut.
"Ah, tidak mungkin.ini pasti hayalanku berlebihan".
Begitu katanya ketika pertama kali menerima surat undangan dari atasan majalah yang telah banyak memberi rejeki padanya itu.
Dengan air mata yang terus jatuh dari kelopak matanya,ia bergegas menuju kantor tersebut untuk melakukan interview.
Entahlah.
Tuhan yang adil atau atasan yang curang.
Hari itu juga ia mulai bekerja untuk kantor tersebut.
Tiap hari dijalaninya dengan penuh ketekunan.
Suatu hari,ia mendapat kesempatan yang sebenarnya jarang didapati pegawai kantor tersebut.
Ia dipercayai atasan untuk mewawancarai salah satu orang elit di kota tersebut.
Dia pun berhasil melakukan tugasnya dengan baik.
Namun, ketika bahagia itu semakin membaluti pikirannya sakit itu malah datang tiba tiba yang membuat dia harus di rawat intensif.
Setelah beberapa minggu dirawat, ia akirnya pulih. Meskipun belum sempurnah.
Ketika sakitnya itu kian rumit.
Seseorang yang tidak disengajai akirnya hadir dalam hidupnya.
Entahlah,
Mungkin itu kiriman Tuhan untuknya.
Seseorang yang selalu memberi dia semangat.
Seseorang yang kini jadi teman bicara,
Yang jadi panutan dan pedoman hidupnya.
Bangke (Nama samaran) .
Sebut saja begitu panggilanya.
Berangkat dari keterbukaan mereka akirnya saling mengenal masa lalu antara satu dengan yang lain.
Hari harinya kini semakin bersinar.
Mungkin inilah cahaya hidup yang dikirimkan Tuhan untuknya.
Semakin lama mengenal dan semakin tak menginginkan untuk berakir.
Demikianlah harapan yang selalu ada dalam pikirannya.
Seseorang yang kini telah menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Hingga kini siBayu masih saja bertempur dengan tulisan.
Dia semakin terinspirasi dan kuat akan cahayanya itu.
Dan seakan tak mau kehilangan cahaya tersebut.
"Salah satu karya siBayu yang paling ia sukai",
Dengki beranak pinak, menjejal otak, jiwa terjebak
Tak kuasa menolak, apalagi berontak, tak bisa teriak
Sebab kursi memberi janji, dasi lambungkan mimpi
Tentang duit rakyat yang bisa mengalir ke kantong pribadi
Rakus lebihi tikus, selalu haus, hidung terus mengendus
Terapkan bermacam modus, pakai trik dan jurus, sampai mampus
Hindari setiap kasus, licin tak terendus
Lontar ujaran berbau kakus, tipu tipu berjalan mulus
Tanpa ragu manipulasi data, berita hoax jadi nyata
Kambing hitam jadi cara, tutupi tindak durjana
Setan bertopeng malaikat, lancarkan tipu muslihat
Di atas nama rakyat, mereka berbuat maksiat
Kebenaran diputar balik, jadi akrobat jungkir balik
Kemakmuran diselewengkan, dibungkam beragam intrik
Muka rakyat ditutup topeng, gambarkan wajah penuh bopeng
Mulut tajam diplester paksa, hingga suarakan rintihan cengeng
Di balik tumpukan sampah, tempat lalat berpesta pora
Orang pinggiran menyeka air mata, tuk pelepas dahaga
Di gorong gorong berair kotor, tempat tikus mendengkur
Orang kecil rebahkan jiwa, karena gubugnya tergusur
Pada air comberan, rakyat kecil menitip harap
Pada udara beracun, mata rakyat kecil menatap
Sebab kesuburan tanahnya telah dirampok orang
Asin air lautnya telah dikuras sebagian dalang
Di selangkangan perawan tua, kita dipaksa onani
Agar tak lagi bermimpi tentang indahnya negeri
Di atas tubuh keriput, kita diwajibkan masturbasi
Agar kita lupa kekayaan negeri yang dipolitisi
AV-
Djakarta, 3 september 2019.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar