Postingan Populer

Sabtu, 02 Mei 2020

Gie_Idhan dan puncak Mahameru.

MAHAMERU, Puncak tertingi dipulau jawa yang menjadi saksi puncak kehidupan "Gie"  dan  "Idhan".
Oleh; Amsu ValLentino. 



12-17 desember 1969. Masa itu setelah dibayang bayangi oleh gejolak multi dImensional yang berdarah- darah melanda negri ini. Berangkatlah 8 orang anak muda yang sebagian besar adalah mahasiswa UI Jakarta menuju sebuah tanah impian yang menjulang tinggi membelah angkasa pulau Jawa.

Tak pernah terbayangkan dalam benak mereka, bahwa perjalanan itu kelak akan menjadi puncak perjalanan bagi dua orang rekan tercinta dan tercatat sebagai sejarah memilukan dalam kehidupan mereka. MAHAMERU 12-17 desember 1969 adalah saksi bisu yang memiliki rentan waktu sangat panjang tehadap kisah delapan orang anak muda ini. Hiruk pikuk kota Jakarta berserta sejarah yang dibuatnya telah menggiring para demonstran ini mencari kedamaian dalam pelukan Mahameru.
Sore 16 Desember 1969 alam seakan bersedih dengan menitiskan air matanya dalam selimut kabut tebal yang membungkus perjalanan bersejarah itu. Rombongan yang terbelah menjadi 2 bagian itu seakan membenarkan firasat maut oro oro ombo yang sebelumnya pernah terlintas dibenak seorang diantara mereka..

”Ya Sore itu Mahameru nampak sangat mengerikan." Mahameru seakan akan membawa maut kepada kami.” Rombongan yang akan segera terpisah menjadi dua alam kehidupan tetapi terkemas rapi dalam sebuah sejarah di peradaban.

Firasat tinggal firasat dan maut tak dapat dielakan.

“Say your prayer dan segera turun” hmm inilah kata kata yang sempat tertinggal dan akan abadi dalam kenangan Mahameru. Setelah Wiwiek, Tides dan Badiel turun Gie masih bertahan dipuncak untuk menunggu Herman Lantang. Gie sangat kawatir dengan kenekatan Herman Lantang makanya ia bersikukuh untuk menunggunya 

Sebelum Wiwiek, Badiel, Freddy dan Tides turun untuk membawa maman yang cedera karena suatu hal, Gie sambil tertawa kecil berkata kepada Badil. “ ni titip buat janda janda gue di di Jakarta.." Yaa batu batu dan beberapa helai daun cemara itu seakan menjadi cinderamata dari para dewa kepada kita untuk merenungi tangisan dan air mata Pertiwi yang mengiringi kepergian seorang demonstran sejati.

Maut itu benar benar datang.

Selang beberapa lama Herman dan Idhan tiba di Puncak. Idhan segera duduk disamping Gie sementara Herman tetap berdiri menatap Kepulan Hitam Jonggring Saloko. Angin dingin yang berselimut gas beracun diam diam telah merasuk kedalam tubuh Gie dan Idhan tanpa mereka sadari. Herman Lantang yang berdiri tegak seakan menjadi saksi dari tegarnya seorang anak manusia dalam menyaksikan detik detik akhir kehidupan dua orang sahabat tercinta.

Tiba tiba Gie lemas dan tubuhnya agak menggelepar, dengan sigap Herman yang tak menyadari bahwa dirinya juga sedang diintai maut segera membawa Gie turun menuju Base Camp di Arcopodo. Baru beberapa meter dari puncak..Herman punya maksud tetapi Tuhan punya kuasa, disaksikan megahnya Mahameru Gie pun tewas dalam pelukannya..

Menyadari maut telah merengut sahabatnya Herman terkulai tetapi ia segera teringat kepada Idhan. Segera ia kembali menuju puncak dan mendapati Idhan juga sudah lemas tak berdaya, dengan kesedihan yang mendalam Herman yang terkenal keras dan nekat ini tak mampu lagi membendung air matanya karena ternyata Idhan pun telah berpulang didalam pelukan Mahameru. Hujan telah berhenti tetapi hujan baru akan dimulai setelah Pertiwi mengetahui kejadian ini.

Sejarah itu telah tercipta.

Herman Lantang terpaku diantara batu batu dan pasir Semeru yang menjadi alas jenazah dua orang sahabatnya. Sementara rekan mereka yang lain menunggu dengan gelisah dalam ketidak tahuan bersama racauan seorang sahabat mereka. Keasadaran sebagai seorang kawan, sahabat dan jiwa-jiwa yang mencintai alam sepenuh hati telah mendorong bathin Fredy dan Tides untuk menjemput serta mengetahui keadaan tiga orang sahabatnya.

Solidaritas berbicara tetapi Semeru memiliki cerita karena sejarah akan segera tercipta. Dalam temaram suasana mereka mendapati Herman sedang menangis. Tangisan perih diatas cerita abadi jasad kaku kedua sahabatnya. Duka bercampur debu Semeru menjadi saksi pergulatan bathin yang sulit dilukiskan dengan kata dan air mata.

Dengan semangat yg tersisa didalam luka, susah payah mereka mencoba untuk membawa jenazah Gie dan Idhan menuju Arcapada. Jonggring Saloka tetap bergemuruh, awan hitam tetap menggantung didalam sunyinya maut yang datang menghampiri. Gie dan Idhan diam membeku sementara Herman. Fredy dan Tides harus pergi untuk kembali.

Gie dan Idhan telah tiada.

Tanah tertinggi Pulau Jawa menjadi saksi bisu bagi ratusan genarsi selanjutnya atas jasad-jasad kaku keduanya. Jasad jasad muda yang gugur dalam keyakinan hidup untuk memperjuangkan cita dan cinta mereka terhadap damai dan indahnya Nusantara. GIE dan IDHAN telah tiada tetapi tidak dengan semangat mereka yang selalu hidup didalam jiwa muda setiap anak bangsa.

    

    In Memoriam Gie _Idhan & Mahameru 

      INDONESIAN GREEN RANGER

MAHAMERU
Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis 

#av. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar