Negri Ngerih.
°/Amsu ValLentino
jelaskan kepadaku: negeri macam apa ini?
ketika jumlah pengangguran terus bertambah
dan jumlah keluarga miskin makin banyak,
ketika harga-harga tak henti naik berlipat
dan bahkan tahu serta tempe tak lagi bisa terbeli oleh rakyat
Petinggi negri hanya cengenges
memapar angka-angka yang dia kata patut diyakini sebagai indikator
bahwa keadaan rakyat, keadaan masyarakat dan bangsa ini
dari waktu ke waktu terus membaik.
aku tak tahu.
aku yang picek ataukah petingggi negara yang buta?
aku tak tahu.
aku yang terlanjur tak bisa percaya angka-angka
ataukah petinggi negara yang sedang menebar dusta?
angka-angka tak pernah membuktikan apa-apa
karena yang kutahu adalah bahwa dari hari ke hari
makin banyak orang yang bisa makan hanya di dalam mimpinya.
itulah sebab mengapa busung lapar, beri-beri, buruk gisi, buyuten
dan ngantukan bertebaran di berbagai penjuru negeri.
menyerang bayi, balita, anak-anak, remaja, orang tua-orang tua,
dan perempuan ataupun laki-laki. bahkan juga menyerang waria!
tapi apa kata menteri kesehatan dari Petinggi negara itu?
sambil sesekali menepuk-nepuk pipi kiri dengan kertas tisue
lantaran ia pikir pupurnya melumer oleh sorot lampu kamera televisi swasta,
menteri kesehatan dari petinggi negara kita itu berkata, “tidak..., tidak...,
bukan.., bukan saudara. itu bukan beri-beri. bukan busung lapar.
bukan buruk gisi.
begini ya..., saya ingin katakan pada teman-teman wartawan...,
itu karena mereka kurang menjaga kebersihan lingkungan.
juga karena rumah-rumah mereka tidak memiliki cukup ventilasi udara...”
marah dan sedih, sedih dan marah,
bukan karena minum dan terus minum tapi tak kunjung mabok,
bukan karena frustrasi atau apa lagi merasa tak berdaya,
bukan karena bertahun menggapai sia-sia,
aku kluyuran, limbung, gluyuran dan bentoyongan
dari satu wajah ke lain tanah, dari satu hari ke lain hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar