Postingan Populer

Jumat, 07 Mei 2021

ADA PUISI DALAM CELANAMU


aku telah mendengar satu sabda
Entah dari seorang perjaka 
Atau yang sudah berumahtangga
Memenuhi tanya seisi kepala

~Sebrengsek-brengsek lelaki,
Ia akan tetap memilih perempuan suci Sebagai ibu dari anak-anaknya!

Aku tak tahu apakah ini puisi 
Diksi-diksi mati di sangsi
Disangrai dari dinding-dinding hati
Lalu menjadi pepatah paling elegi 

Sementara ia sedang menikmati tubuh
Sedang aku terpaku satu butuh
Semuanya menjadi semaunya
Terakar dari geli yang terbakar

Lalu perlahan menuju celana boxer
Katanya itulah cinta
Tinta dari puisi-puisi tertulis
Sebelum rapi pada kertas putih

Aku tak ingin mencintaimu dengan cara ini!
Ini tabu yang mestinya tidak terjadi
Yang akhirnya hanya mendatangkan parit-parit penyakit di otak kiri.
Seperti domba persembahan yang mati dikebiri?

Bukankah katamu aku harus suci?
Bukankah katamu aku mesti menjadi bersih?
Sebelum kita tuntas diberkati
Aku tak ingin kau kawini!

~apakah kau tak perawan?

Berapa dolar yang kau miliki menguasai tubuhku?
Berapa keberanian yang kau miliki menghakimi kodratku?
Apakah dengan bertanya perihal rapat v*ginaku?
Atau sesal setelah tahu longgar rahimku?
Katamu kau mencintaiku?
Ternyata hanya pengecut yang sedang melindungi diri.

Isi celanamu bukan cinta
Ia hanya seonggok daging hitam legam
Busuk pada hari kematian
Yang akan kutaburi garam
Dengan sedikit melati dari bising-bising suara hati
Mekar pada kekuatan, aku menghantarmu pada peristirahatan terakhir.

Ada puisi pada celanamu
Telah basi.

#i

Tidak ada komentar:

Posting Komentar