Postingan Populer

Rabu, 30 Juni 2021

PRANAJA

Arjuna Pranaja. Pemuda bermata gelap itu telah belajar banyak mengenai kehilangan. Keluarga kecilnya berantakan, hal-hal menyakitkan terjadi di depan matanya, orang-orang tercintainya pergi tanpa pernah bisa kembali.

Selang waktu berjalan, ia berusaha untuk bangkit. Ia kira setelah segala hal menyakitkan terjadi, tinggal senyum yang menanti.

Saat itulah, Kiana Niranjana berdiri di sana, membawanya keluar dari labirin masa lalu yang gelap. Gadis itu mengajarkannya cara tertawa, juga bahagia.

Tapi ternyata, semesta memang kerap kali suka bercanda. Badai itu belum reda sepenuhnya. Luka itu belum kering seutuhnya. Keberadaan Kiana justru menyeretnya menuju luka yang lebih dalam.

Hingga pada satu titik kelelahannya, ia mulai bertanya-tanya: Mungkinkah ia memiliki akhir yang bahagia?

***

“Bagi beberapa orang, bahagia merupakan fatamorgana. Namun, kenapa luka menjadi begitu nyata?”

#If_only
#Edo

Selasa, 29 Juni 2021

SETIAP MALAM KECUALI TANGGAL MERAH




Di luar
hujan masih turun dengan nakalnya
berhamburan 
seperti manik-manik kalung putus 

Di dalam kamar
Dia  menjahit kancing baju yang terlepas
diremas tangan-tangan beringas
yang buru-buru ingin mendaki buah dada

Dada ini, Nak
menjadi telaga bagi jiwa-jiwa kehausan
haus kasih sayang, haus kenikmatan, dan haus belaian
penghangat bagi mereka yang kesepian 

Dada ini
tak pernah dan tak boleh lelah memancarkan kenikmatan
setiap malam, kecuali tanggal merah
sebab di tanggal merah, mereka merayakan kesepiannya bersama keluarga
dengan meriah

Di rumah
anak lelakinya menunggu
air liurnya menetes
membayangkan sebungkus nasi padang dan sebotol susu

Bersabarlah, Nak
Ibu masih harus membuka dada 
untuk satu pelanggan lagi
agar kuali nasi kita terisi
dan kita tak lekas mati

***
#edo
#KP 

Rabu, 02 Juni 2021

HIDUP DALAM KETAKUTAN ATAU MATI.


"Sisakan kenangan yang menyenangkan, kenangan yang buruk tulis dan lupakan." (Hal. 131) Salam Pengetahuan Bagi Kita Semua! 
Kali ini saya akan mencoba mengulas buku karya Minato Kanae, yakni Confessions. Buku genre thriller ini sungguh menarik dan menyita perhatian banyak orang hingga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Penasaran seperti apa bukunya? Mari simak ulasan berikut. 

Identitas bukuJudul: Confessions
Penulis: Minato Kanae
Penerjemah: Clara Canceriana, Andry SetiawanPenyunting: Prisca PrimasariPenyelaras Aksara: Titish A.KPenerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 304

Kesan PertamaDari covernya terlihat sangat menarik, ada nuansa kelam dan gelap. Dan sinopsisnya pun sesuai dengan apa yang saya inginkan. Mengawali bacaan dari bab 1 rasanya agak membosankan karena dibangun dengan fase lambat. Juga pemb*nuhan Manami yang telah diketahui sang sensei rasanya akan membuat jenuh. Itu adalah kesan pertama membaca buku ini. 

Moriguchi Yuko adalah seorang guru SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira itu cuma kecelakaan nahas.Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh dua dari anak didiknya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu bebas. Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk.

Buku ini tersusun atas 6 bab dengan judul Orang Suci, Martir, Pencinta, Pencari Kebenaran, Pemuja, dan Penginjil. Masing-masing bab menceritakan sudut pandang (POV) tiap karakter yang terlibat dalam kasus pembunuhan ini.Bab pertama di awal, oleh Moriguchi-sensei yang bercerita bahwa ia akan mengundurkan diri. Namun, sebelum mengundurkan diri, dia bercerita mengenai kasus kecelakaan anaknya yang ternyata dibunuh oleh dua muridnya sendiri (A dan B). Dalam bab 1 ini, alur yang dibangun cukup menarik karena bukan hanya pembunuhnya yang terungkap, tetapi konflik dan masalah utama yang akan dibangun sedikit berbeda dari dugaan awal. 

Berlanjut ke bab 2 yang bercerita dari sudut pandang sang ketua kelas, Mizuki-chan. Setelah sensei mengundurkan diri dan menghilang tanpa kabar, Mizuki-chan mencoba untuk menghubunginya dengan cara menulis esai dengan harapan esainya menang dan dimuat dalam majalah yang sering dibaca sensei.Pada saat itu juga, salah satu anak yang memb*nuh Manami, anak Moriguchi-sensei, tidak pernah terlihat di kelas. Alhasil wali kelas baru pengganti Moriguchi-sensei dan Mizuki-chan selaku ketua kelas setiap minggunya pergi ke rumah Naoki-kun dengan harapan agar berangkat ke sekolah. Dalam bab 2 ini banyak sekali konflik yang dihadapi oleh Shuya-kun (si A) dan Naoki-kun (si B). Dan di akhir, dengan kejadian janggal, yakni Naoki-kun memb*nuh ibunya sendiri. Setelah itu, 

berlanjut ke bab 3 yang bercerita mengenai kakak kedua Naoki-kun yang ingin mengungkap pemb*nuhan antara adik dan ibunya sendiri. 

Berlanjut ke bab 4 dan bab 5 yang menceritakan mengenai alasan di balik itu semua, dari sudut pandang Naoki-kun dan Shuya-kun. 

Terakhir, bab 6 ditutup dengan apik oleh penghakiman sang sensei terhadap kedua anak didiknya itu.

Yang menarik dari buku ini adalah alur yang dibangun tiap bab-nya serta sudut pandang dari masing-masing karakter. Selain itu, setiap bab membawa kita kepada konflik-konflik baru karena adanya twist sehingga kita tidak bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi di bab selanjutnya. 

Terlepas dari itu semua, sebenarnya buku ini sangat mengajarkan kita bahwa cara mendidik anak yang terlalu berlebihan akan berdampak pada moral dan psikologis anak. Kita yang mendidik mereka tidak pernah tahu apakah mereka merasa baik-baik saja atau justru karenanya malah menderita? (Edo) _