Postingan Populer

Minggu, 23 Agustus 2020

Jakarta Vigilante Dan Siti

Jakarta Vigilante.

Hari itu minggu. Hujan semalam yang baru saja redah masih menyisahkan aroma tanah yang lama ditindas aspal jalanan. 
Arvril sudah menikmati kopi paginya sedari subuh. Untuk keenam kalinya ia membakar ujung rokoknya. Dimainkan asap tebal dari bibir gelapnya akibat kecanduannya pada batangan kretek tersebut ke udara. 

Ia tampak aneh. Antara bingung dan gelisah saya tak dapat memastikan itu. 
Arvril... 
Aku menghampirinya sambil menyapa. 
Ia tampak terkejut. 
Ku teguk KopiNya yang hampir menyisahkan ampas. 
Aku dan avril selalu begitu. entah siapa yang menyeduhkan kopi itu kami selalu menikmati bersama dalam secangkir. Kami ngekos bareng di daerah kumuh,belakang perumahan elit pondok indah,Kebayoran.
Aneh banget daerahnya. Depannya perumahan elit, belakangnya daerah kumuh. 
Kita seperti hidup dan tidur diatas sampah kaisar dibalik pagar bata setinggi 3 meter itu. 

Jakarta Vigilante itu sudah merubah hidupku. 
Avril memulai ceritahnya sambil memainkan asap kreteknya ke udara.
Aku mulai bingung. 
Mungkin arvil sedari tadi sedang ngigo karena kebiasaan tidurnya selekas solat subuh. 

Ada apa dengan jakarta Vigilante ? Tanyaku penasaran !. 

Kita telah dibohongi aparat dan kaisar istana negri ini.
Aturan dibuat untuk dilanggar. 
Semua kericuhan dan problem negri ini seolah ada sutradara yang sudah menulis skenarionya. 

Aku makin bingung dengan penjelasannya. 

Kita seolah menghadapi kasus dalam negri yang Sejatihnya itu adalah hasil dari buatan pejabat publik sendiri. 
Di satu sisi sebagai pengalihan isu, 
Sisi lain sebagai upaya untuk mengejar sensasi. 
Benar-benar seperti negri dongeng. 
Avril menghela napas panjang, penuh emosi. 
 
Buku sejarah pejabat mencatat persaingan ketat antar Konglemerat untuk memperkaya diri, dari cara licik hingga langkah hitam dibuatnya hanya untuk menjungkalkan lawannya. 
Tak hanya sampai disitu, kaum Konglemerat berlombah menyewa preman kota yang dianggap paling garang dengan link terbanyak hanya untuk menjaga secarah individu ataupun untuk mejalankan aksi licik untuk melawan pesaingnya. 


Aku baru sadar kalau selama ini kepanikan-kepanikan rakyat adalah buatan pejabat. 
Kita digiring seperti anakan domba,kemana saja sang gembala itu menginginkan tujuan tertentu. 
Lahan kita digusur, 
Hak kita dirampas bahkan sampai pada hak dasar kita diporoti habis-habisan oleh penguasa. 

Benar-benar tak bermoral. 
Aku tak lagi mendengar dan merasakan nilai pancasila dibalik gedung pencakar langit itu. Di gedung bupati dan gubernur. 
Di istana para kaisar negri ini. 
Jangankan merasakan,ingatan Mereka saja sudah sirnah. Apalgi perilakunya. Yang ada dalam hati dan pikiran mereka hanya harta dan kedudukan walau dengan cara memeras rakyat hingga menjual bangsa. 
Pancasila telah dikubur beserta semangat para pendiri bangsa. 

Bagaimana menurut anda? 
Arvil berbalik tanya padaku. 

Ya aku juga demikian. 
Bahwa tujuan bangsa seolah berubah, dari mensejatrakan berubah jadi menyengsarakan. 




Ah,aku Sunggu tak menyangka mendapatkan buku itu .Benar-benar mengguga Nyali. 
Terimahkasi siti. 
Arvil menghabisakan kreteknya dan membuang puntung ke arah tangga. 
Saking kesalnya ia berdoa agar ada pejabat yang lewat agar puntung kreteknya itu menyelinap dibalik saku jas atau rambut mereka agar bisa mengerti tentang emosinya saat ini. 

Sambil tertawa nyinyir aku menyinggung nama siti yang sempat disebutnya tadi. 

Siti adalah perempuan paling istimewa buat arvil.

Beliau adalah guru diluar jam sekolahku, dia yang bisa merubah pikiran dan berhasil menuntuntunku sesuai arah pikiranku kejalan yang benar. 
Dia banyak berbuat hal luar biasa untukku. 
Dari belajar bersama.
membahas banyak hal aneh, mulai dari aturan aneh,mencetuskan teori konyol hingga hal-hal pornografi yang menurutku adalah hal Manusiawi dan sebagai bentuk penghargaan atas sang pencipta. 
Namun siti tetap menganggapku seperti bapa bangsa yang dijuluki sebagai pria flamboyan. 
Ah dasar mindset mesum. 
Otak lu udah dimakan sebelah oleh setan napsu. 
Ahahah... 
Aku selalu tertawa ketika mendengar ucapannya itu. Demikian kata arvil tentang siti sang pujaannya itu. 




Jumat, 17 Juli 2020

BUITENZORG

______________
Aku mendatangimu lewat tulisan ini sebelum malam lengah lebih jauh
Pada diriku, kata-kata seakan masih terasah terengah-engah menyebrangi jantung puisiku, tapi kali ini aku niatkan
Aku hembus tepat dilenganmu, peluk lebih erat agar kau merasa tidak ditinggalkan dan semoga bisa menopang seluruh rindu yang dibuat rubuh oleh sepi

Sudah banyak hari terlewatkan 
Kala kita menghitung keganjilan waktu yang jatuh pada kalender 

Aku mau sekali ini aku belajar menangis tanpa air mata 
Biar tidak membuatmu resah dan ibah
Aku ingin sekali belajar menjadi riang yang ribut dan tak mau diam 
Sehingga kau tak lagi memanggilku linglung
Aku ingin sekali tetap menjadi lemak yang kau keluhkan dan menguras seberapa uangmu untuk sekedar membeli teh pucuk dan es krim corrneto 

Seperti yang aku belajar dari Ibuku
Aku ingin sekedar mencintaimu dengan menghilangkan seluruh gengsi yang bertandang di dadaku
Menyuapimu makan layaknya anak kecil, memakaikan jakat ketubuhmu ketika kau pulang saat datang menengokku
Hal semacam itu bukan suatu berlebihan
Aku hanya ingin mengikuti ajaran yang dicontohkan Ibuku 
Mungkin itu gambaran bagaimana cara rasa sayang bekerja sebenarnya

Sesulit menjelaskan kerumitan yang ada pada kita
Aku selalu menemui Tuhan dalam kepasrahan 
Memikul segala keluh yang merahasiakan diri dari tinta 
Aku sendiri melihat air mataku bekerja sejadi-jadinya sampai pada ketenangan Tuhan taruh ditelapak bantal mengelus pipiku dan membuatku kemudian terlelap

Kita memang  tidak punya kuasa  menebak nasib
Ketakutan-ketakutan bekerja seperti hantu selalu mendiami angan-angan
Seperti  kita melihat antara mimpi atau kenangan yang bergantung membuat pilihan
Namun diatas itu semua,  sepenuhnya ketulusan tetap kita jaga sebagai manusia. Semoga tidak seperti musim dan cuaca 

LDS

Minggu, 05 Juli 2020

Bagaimana Bila?

Bagiaman Bila? 

Oleh:AS


Masih saja kurasa bimbangmu, dan kulihat ragumu!


Bagaimana bila?,

aku adalah engkau.

engkau adalah aku.

aku adalah dia, kami, atau mereka.

dia, kami, atau mereka adalah aku.


Bagaimana bila?,

Burung kehilangan sayapnya, ikan kehilangan airnya, atau harimau tanpa taring.


Bagaimana bila?,

Tetumbuhan tak lagi memberi makan para hewan, tak indah dan wangi lagi bunganya, tak manis lagi buahnya.



Gunung2 dilemparkan, lautan ditumpahkan, tanah dibalikkan, dn langit digulung


Bagaimana bila?,

Yg sedih menjadi senang, senang menjadi sedih, hati menemukan lawan rasanya


Bagaimana bila?,

yg kau tunggu takkan datang, yg kau jemput tak ada ditempatnya, yg kau yakini cuma khayalan, yg kau ragukan rupanya sebuah kenyataan


Bagaimana bila?,

Ku kau tinggalkan

Atau kau kutinggalkan

Cinta menjadi benci

Rindu menjadi jemu


Lantas apa yg akan kau perbuat?

Ragulah akan semua kemapanan

Carilah kepastian pada setiap keraguan

Dan temuilah dirimu


Carilah kebenaran dalam kehidupanmu

Dan janganlah mencari pembenaran


Dan lalu, bagaimana bila?

Kubilang aku mencintaimu untuk yg kesekian kalinya?


Senin, 29 Juni 2020

BUITENZORG

BUITENZORG 
Oleh:AS


Aku mendatangimu secepat ini Sebelum kopiKu mencapai dasar gelasnya, sebelum berpisa dengan Juni yang memiliki segalah keistimewaannya berakir. Mulai Dari Kisah pria flamboyan dengan pancasilanya, B.J Habibie dengan temuan pesawatnya, Soeharto, Joko Widodo sang presiden sekarang Dan Soewardien saudaramu sendiri. Semuanya itu sangat istimewa untuk kita sejarahkan. 

Bahwa setiap napas yang berganti adalah Kisah. 
Begitu juga dengan kita avril, 
Aku Tidak menceritakan Kisah tentang mereka diatas, Bukan juga tentang kemalasanmu yang membudaya. 
Ini adalah Kisah kita dibulan Juni. 
Bulan Tanpa Tanggal 31 dalam Catatan kalender avril. 
Aneh Dan Benar-benar istimewa bukan? 


Kita memulai dari sebuah keganjilan Tanpa sengaja,Dan itu adalah nikmat tersendiri avril. 
Hhhhhh.. 
Kamu pasti akan tertawa ketika kita menceritakan tentang keganjilan ini. 

Dari segalah ketakutan, 
Dari semua kerumitan tentang kita, 
Hingga Pada kekonyolan tentang kita avril, 
Dan semua itu adalah Kisah. 

Avril, kita Sudah cukup banyak menghabiskan waktu untuk bersama, 
Memang Terbilang tak ada yang romantis tentang kita, Bahkan kamu sendiri juga tak mau kulakukan dirimu seperti seorang bayi yang harus ditidurkan dengan lagu Nina bobo,
Dan selalu kujawab bahwa itu adalah pemborosan anggaran. 
Ahhaahhaha.. 
Memang, 
Benar benar ganjil sejarah tentang kita. 


Avril,Aku Sudah membaca suratmu beberapa minggu lalu. 
Tak lain, semua Isinya adalah tentang semua ketakutan Dan kerumitan tentang kita. 

Dengarkan aku baik-baik avril, 
Sejatihnya ketakutan itu ada untuk Mengujih seberapa besar kita kuat dan berani melawan ketakutan itu sendiri. Namun, bukan untuk Menyerah avril. 
Menyerah adalah hadia kepada Kemenangan untuk ketakutan itu sendiri. 
Tetaplah berpegang teguh Pada Kisah kita avril. 

Mungkin aku terlalu yakin dengan Kisah Dr. John Grant, dalam Catatan Buku jacatra secret, Tapi suatu saat pasti akan Aku lakukan untuk tetap menghidupkan Kisah kita dalam Kata bersama. 
Bahwa ketika niat baiknya untuk menyelesaikan kasus besar negri pertiwi, Dia sendiri terpaksa harus menjadi Bagian dalam kasus,bahwa kehadirannya juga jadi masalahkan buat para Penjahat. 
Tapi, Sang simbolog harus menikmati itu, Meskipun harus jadi incaran Dan buronan. 
Aku hingga menulis beberapa kuotas pribadi tentang perumpamaan jembatan Dan Lumpur. 
Bahwa kita pasti akan terjun kedalam Lumpur itu sendiri, Meskipun kita tau bahwa Lumpur itu kotor.Tetapi itu adalah satu-satunya jalan ketika yang lain adalah kebuntuhan. 
Dan Aku akan Siap melakukan itu avril. 


Tentang kita, 
Tentang Semua ketakutan, 
Tentang Semua kerumitan, 
Tetaplah berjalan maju untuk sebuah bahagia avril. 
Berikan aku lebih banyak lagi waktu untuk bersama. 
Kamu tau, Rindu adalah candu buatKu avril.


Tetaplah menjadi avril dengan segalah kemalasan dan kekonyolan yang menjadi Sumber bahagia kita. 
Aneh Memang.!!
Ya seaneh Kisah awal kita hingga sekarang. 

Selamat menikmati fajar pagi terakir dibulan juni sebelum kita harus bertemu lagi tahun depan avril, 
Hangatkan tubuhmu biar kuat, 
Bakar juga lemak-lemakmu dengan Hangat mentari pagi biar makin banyak pakain waktu kecilmu dapat terpakai kembali. 


Sebenarnya tak sampai disini. 
Aku ingin menulis lebih banyak lagi Kisah kita, Yang Tidak hanya sebatas pada majas yang kataMu adalah seperti lagu lagu Nina Bobo,
Tetaplah menjadi wanita adonara dengan percikan wua wayak dari ekot yang terpaksa harus kau muntahkan tepat diwajahku. 
Muntahan petua atas segalah khifalku,
Muntahan rintih bersamaan dengan setumpuk ketakutan atas kerumitan tentang kita untuk diselesaikan dengan akir bahagia tanpa ada Kata pisah Dan irih Antara wua,apu Dan Malu dalam rumahnya ekot.||[AS]

Rabu, 24 Juni 2020

RENJANA

RENJANA

Ketika aku datang kepadamu
Berikanlah aku sepotong puisi milik Sapardi
"Yang Fana Itu Waktu, Kita Abadi"

____
Seribu sembilan puluh hari berlalu
Sutra hitam masih saja melilit dileher lelaki itu
Kendati kematian mendirikan tembok tanpa meninggalkan surat izin terlebih dahulu 
Dari situlah awal kebencian akan kehilangan bermula

Setelah Ibu kandungnya hilang memilih pulang lebih awal dengan cara tragis
Dilahap jurang bergigi batu pada sebuah sore yang licin, hujan lebat ketika dalam perjalanan pulang berkebun
Kini lelaki itu kehilangan lagi seorang kekasih putih yang diagung-agungkan, yang baru saja ditimpal kecelakaan maut dengan kondisi tubuh mengenaskan ditengah-tengah sebuah kota 
Serupa laknat dan kutukan
Lelaki itu, lalu meminum puisi sekali lagi
Dan kembali kemuasal sunyi

Dari lubang hampa
Dia menukik air mata sejadi-jadinya 
Membanting dada sesak untuk entah yang hilang definisi 
Malam itu habis magrib, disudut sebuah toilet rumah sakit 
Lelaki itu remuk tak berampas
Namun tak mau tunjukan kepermukaan dunia, bahwa dia tak mungkin serapuh itu

Setelah tahlilan malam pertama seusai penguburan kekasihnya
Dia berjalan sendiri mengunjungi kuburan, menggenggam sebuah kertas dan pensil lalu menuliskan 

_Aku datang, lihatlah aku sebagai manusia. Aku akui, aku lemah tanpa sosok perempuan
Berikan aku sepotong puisi milik Sapardi 
"Yang Fana Itu Waktu, Kita Abadi"_

Dia menaruhnya diatas pusara, Kekasihnya
Lalu, berjalan pulang, tanpa menoleh lagi kebelakang

___Lamawuran De Sakinah
Banten, 30 April 2020

Minggu, 21 Juni 2020

SEDON ATA RAYA,KEBAREK ADONARA

PEREMPUAN ADONARA. (LDS) 

Elokmu juwita membias pada jantung kehidupan
Jauh dari bisik sumbang penyakit-penyakit kota
Lebih merdu nyanyianmu menimang masa

Aku yang memilih menulis ini
Menjadi saksi peradaban
Bahwa, sejatinya kita adalah mata rantai
Bukan sepenggal buah bibir klasik yang hanya semata didongengkan

Perempuan Adonara
Binar matamu kilatan pedang
Menghunus dijejak sendi-sendi kehidupan

Senyum yang tak bertulang 
Menakluk larik puisi dihati penyair dalam-dalam

Tanganmu lebih lembut dari tangan mesin pabrik 
Kakimu tegak adalah tiang penyangga langit yang kokoh
Menggulung terpal nasip yang kian berdebu

Disetiap adamu, Kami hidup mengais syukur yang tak berkesudahan

Perempuan Adonara 
Memanggang hingga kenyang dalam irama ketukan batu
bertalu
Diatas bara 3 mata tungku
Kantongi pangan dikosongnya perut

Ciptakan warna-warni rajutan helai benang yang kau tenun
Sematkan sandang diatas raga yang telanjang

Berjalan junjung matahari, memetik
rupiah dalam petak ladang

Perempuan Adonara
Masih dengan agungmu
Aroma lipstik alami (sirih pinang) pada bibir kakuh meronah keujung lidah
Yang kau muncratkan percikannya adalah
ayat-ayat suci yang kau bisik

Perempuan Adonara
Mengejamu adalah
perkara kekaguman
Teruslah alirkan darah kesejukan
Tetaplah jadi rumah idaman
Tempat kami berpulang

Witihama, 20 Juni 2017

           

Kamis, 18 Juni 2020

Bunga Juni Yang Lalu

Bunga Juni yang Lalu 
Oleh:Soewradin Pledo's 

Katakan padaku bunga bawasannya sejuta episode perjalan kita adalah waktu temunya siang dan malam, meski sekilas tapi ranjang tempat kau telanjang hiasi langit bukuku yang nyinyalir kosong tanpa mu maksutku telanjang cinta ketika kau bukakan hati telanjang dan menawarkanku duduk diantara barisan lelaki yang menati cecapi kopi buatan mu

Meski kini layu juni yang lalu tapi bening biru matamu itu yang ketika derasnya kau hujaniku di sebua pertemuan, mengajariku hujan yang rintiknya pedih,
Kini juni ku sendiri 
Tanpa tawa ketiwi dengan mu
 seingatku malam yang dulu adalah ucapan selamat tidur terhangat dan kadang mimpi ku dapat 
Setengah siang dan malam adalah kabar bahwasanya saling meprlihatkan pundaknya untuk kenyamanan

Bunga 
Ketauhilah surga bumi dan neraka itu ketika kau eratkan tanganku dan tidur di pundaku sembari kau bermanja
Dan nerakanya adalah aku ketika egois menduakanmu dan tak mau meperbaikinya meski itu sekilas 

Bunga Juni yang layu
Kabari aku jika kau layu
Dan ku belaimu hingga kau tidur dalam malamku seperti dulu

☕🍁
Setengah Masa lalu adalah cerita bagi setiap manusia yang pandai berayu

Salam Dari Casperr14 juni20