Postingan Populer

Rabu, 24 Juni 2020

RENJANA

RENJANA

Ketika aku datang kepadamu
Berikanlah aku sepotong puisi milik Sapardi
"Yang Fana Itu Waktu, Kita Abadi"

____
Seribu sembilan puluh hari berlalu
Sutra hitam masih saja melilit dileher lelaki itu
Kendati kematian mendirikan tembok tanpa meninggalkan surat izin terlebih dahulu 
Dari situlah awal kebencian akan kehilangan bermula

Setelah Ibu kandungnya hilang memilih pulang lebih awal dengan cara tragis
Dilahap jurang bergigi batu pada sebuah sore yang licin, hujan lebat ketika dalam perjalanan pulang berkebun
Kini lelaki itu kehilangan lagi seorang kekasih putih yang diagung-agungkan, yang baru saja ditimpal kecelakaan maut dengan kondisi tubuh mengenaskan ditengah-tengah sebuah kota 
Serupa laknat dan kutukan
Lelaki itu, lalu meminum puisi sekali lagi
Dan kembali kemuasal sunyi

Dari lubang hampa
Dia menukik air mata sejadi-jadinya 
Membanting dada sesak untuk entah yang hilang definisi 
Malam itu habis magrib, disudut sebuah toilet rumah sakit 
Lelaki itu remuk tak berampas
Namun tak mau tunjukan kepermukaan dunia, bahwa dia tak mungkin serapuh itu

Setelah tahlilan malam pertama seusai penguburan kekasihnya
Dia berjalan sendiri mengunjungi kuburan, menggenggam sebuah kertas dan pensil lalu menuliskan 

_Aku datang, lihatlah aku sebagai manusia. Aku akui, aku lemah tanpa sosok perempuan
Berikan aku sepotong puisi milik Sapardi 
"Yang Fana Itu Waktu, Kita Abadi"_

Dia menaruhnya diatas pusara, Kekasihnya
Lalu, berjalan pulang, tanpa menoleh lagi kebelakang

___Lamawuran De Sakinah
Banten, 30 April 2020

Minggu, 21 Juni 2020

SEDON ATA RAYA,KEBAREK ADONARA

PEREMPUAN ADONARA. (LDS) 

Elokmu juwita membias pada jantung kehidupan
Jauh dari bisik sumbang penyakit-penyakit kota
Lebih merdu nyanyianmu menimang masa

Aku yang memilih menulis ini
Menjadi saksi peradaban
Bahwa, sejatinya kita adalah mata rantai
Bukan sepenggal buah bibir klasik yang hanya semata didongengkan

Perempuan Adonara
Binar matamu kilatan pedang
Menghunus dijejak sendi-sendi kehidupan

Senyum yang tak bertulang 
Menakluk larik puisi dihati penyair dalam-dalam

Tanganmu lebih lembut dari tangan mesin pabrik 
Kakimu tegak adalah tiang penyangga langit yang kokoh
Menggulung terpal nasip yang kian berdebu

Disetiap adamu, Kami hidup mengais syukur yang tak berkesudahan

Perempuan Adonara 
Memanggang hingga kenyang dalam irama ketukan batu
bertalu
Diatas bara 3 mata tungku
Kantongi pangan dikosongnya perut

Ciptakan warna-warni rajutan helai benang yang kau tenun
Sematkan sandang diatas raga yang telanjang

Berjalan junjung matahari, memetik
rupiah dalam petak ladang

Perempuan Adonara
Masih dengan agungmu
Aroma lipstik alami (sirih pinang) pada bibir kakuh meronah keujung lidah
Yang kau muncratkan percikannya adalah
ayat-ayat suci yang kau bisik

Perempuan Adonara
Mengejamu adalah
perkara kekaguman
Teruslah alirkan darah kesejukan
Tetaplah jadi rumah idaman
Tempat kami berpulang

Witihama, 20 Juni 2017

           

Kamis, 18 Juni 2020

Bunga Juni Yang Lalu

Bunga Juni yang Lalu 
Oleh:Soewradin Pledo's 

Katakan padaku bunga bawasannya sejuta episode perjalan kita adalah waktu temunya siang dan malam, meski sekilas tapi ranjang tempat kau telanjang hiasi langit bukuku yang nyinyalir kosong tanpa mu maksutku telanjang cinta ketika kau bukakan hati telanjang dan menawarkanku duduk diantara barisan lelaki yang menati cecapi kopi buatan mu

Meski kini layu juni yang lalu tapi bening biru matamu itu yang ketika derasnya kau hujaniku di sebua pertemuan, mengajariku hujan yang rintiknya pedih,
Kini juni ku sendiri 
Tanpa tawa ketiwi dengan mu
 seingatku malam yang dulu adalah ucapan selamat tidur terhangat dan kadang mimpi ku dapat 
Setengah siang dan malam adalah kabar bahwasanya saling meprlihatkan pundaknya untuk kenyamanan

Bunga 
Ketauhilah surga bumi dan neraka itu ketika kau eratkan tanganku dan tidur di pundaku sembari kau bermanja
Dan nerakanya adalah aku ketika egois menduakanmu dan tak mau meperbaikinya meski itu sekilas 

Bunga Juni yang layu
Kabari aku jika kau layu
Dan ku belaimu hingga kau tidur dalam malamku seperti dulu

☕🍁
Setengah Masa lalu adalah cerita bagi setiap manusia yang pandai berayu

Salam Dari Casperr14 juni20

Kamis, 11 Juni 2020

Siti_

Siti_


Siti Kekasihku,

Kenapa harus kau bangunkan aku sepagi ini siti. 

Tapi tak apalah, 

Sebagai seorang lelaki aku harus sepagi mungkin dan mendahului ayam untuk mengais rejeki dari kardus kardus samping rumah pejabat itu. 


Selekas dari tidurku langsung ku sehruputi kopi buatanmu seperti biasanya dibalik senyumMu. 

Aku terhenti ditengah tegukan pertamaku. 

Siti, 

Mengapa sepahit ini kopi buatanmu. 

Tak seperti kopi buatanmu kemarin. 


"Anggap saja itu ibarat kisah kita saat ini ama, 

Kita sedang dalam dilema dan penuh dengan serba salah untuk kisah kita."Demikian jawab siti. 


Kenapa siti? 

Ada apa? 


Allahku dan Tuhanmu berbeda. 

Aku tak yakin kita akan direstui ama. 

Ayah dan ibuku begitu fanatik dengan keyakinannya.

Lagi pula kehormatan yang paling utama adalah orangtua. 

Aku harus mengikuti mereka. 

Kita harus mengakhiri ini Ama. 

Demikian jawab Siti.!!!


Kuhabiskan kopiku dalam sekali teguk. 

Ku berlari dari peraduan menujuh puncak, 

Dengan lantang Kuteriakan pada seluruh ciptaan Sang Kuasa, 

"Dunia Tak Adil"

Mengapa aku harus merasakan ini secepat lesatan meteor. 


Aku baru tau, 

Ternyata keyakinan bisa jadi penghalang kebahagiaan. 

Lalu apa? 

Katanya Allahmu dan Allahku telah menjanjikan kebahagiaan untuk kita dikemudian hari. 

Dan ini yang namanya bahagia !? 

Ah. 

Tuhan tak adil. 



Siti Kekasihku. 

Aku sadar, 

Sebaiknya kau nikah dengan orang yang lebih bisa beruntung dan rupawan. 

Ku tau siti,. 

Latar belakang kita berbeda. 

Aku hanyalah sebatang kara yang dilahirkan dan hidup karena kesalahan semesta. 

Aku tak punya apa-apa untuk membeli bedak dan lipstik untukmu dikemudian hari. 


Sementara kamu, 

Kamu punya segalahnya siti. 

Uang ada, 

Keluarga lengkap, 

Tak ada bedanya dengan Konghlamerat. 

Hanya saja kamu beda jumlah dan suvvenir yang mengisih ruang tamu keluargamu, siti. 



Siti kekasihku, 

Aku mengijinkanMu pergi. 

Tapi bukan karena kita bedah keyakinan. 

Aku mengiklaskanmu pergi hanya karena aku takut kau dan anak kita akan kelaparan nanti, hanya karena aku tak mampu membeli beras dan sayuran yang sehat untukmu berdua siti. 


Tapi ingat siti. 

Aku mencintaimu tidak main main siti. 

Aku merasakan kehidupan yang lebih baik bersamamu siti. 

Aku kuat bersamamu siti. 


Sekarang, 

Pergilah. 

Pergilah sejauh yang kau mampu, 

Tapi cintaku dan hidupku akan tetap ada untukmu siti. 


Pergilah, 

Aku mencintaimu siti.[AS] 


                  



Jumat, 05 Juni 2020

Kau mengajariku Beretika?



Tidak perlu mengajariku bagaimana beretika dengan baik, jika memanggilku saja kau berteriak. Jangan ajari aku etika, jika di depanku kau melanggar aturan. Lalu kau bilang, "Perhatikan apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan." Lalu, apakah kau akan menerima jika orang gila memberimu arahan. Tentu kau akan berpikir lebih dulu, bukan? Begitulah kira-kira, penasehat yang tak pandai melihat kedalam dirinya. 

Aku tidak bilang bahwa kau gila, tentu kau salah besar jika menganggap demikian. Yang ingin kukatakan adalah keteladanan jauh lebih penting. 

Kau bilang jangan kasar, tapi kau sendiri memberitahuku dengan mata memerah. Kau bilang hormati aku, tapi kau lewat di depanku dan hampir menginjakku. Lalu kau bilang, jangan langgar aturanku atau kuberi sanksi yang tegas. Tapi kau sendiri lupa pada aturanya. Kau langgar semaumu. 

Maka mari perhatikan sejenak seorang bayi mungil. Ia peniru yang handal. Kau boleh melarangnya, mengatakan tidak pada semua hal. Apakah dia peduli? Tentu dia peduli jika kamu pun tidak melakukanya. Sebaliknya perhatikan, anak-anak yang menjadi pemarah, agresif dan suka membantah. Kau bilang dia anak yang nakal. Tidak, sesungguhnya dia tidak nakal. Coba perhatikan sikap ayahnya ketika marah, anak-anak mewarisi itu.

Jangan ajari aku etika. Jika kaupun tidak mengerti bagaimana beretika. Berilah teladan. Dengan begitu, tanpa kau ajari aku pasti beretika.[as]
       photos_by:lamawuran de sakinah_fb 

Rabu, 03 Juni 2020

Boca Tanpa Alas Kaki

Aneka Tanya terhenti depan moncong senjata, 
Laras panjang terarah tepat ulu hati. 
Ketidakpercayaan menjadi tuba dalam kepala,Bercampur kusumat mengalir deras dalam nadi. 
Gigil Pada kaki tak mampu disembunyikan. 
Jengah dalam hati tak jua tersembukan. 
Pada siapa rasa gamang harus dialamatkan. 
Saat sejumput harapan terbentur kesombongan. 
Mesin menikam aspirasi hingga tak bernyawa. 
Kebohongan kongkalikong dibalik tirai demokrasi. 
Suara tak puas terbungkus karung beras. 
Jadi santapan kutu berwaja culas. 
Makluk pengerat bersinergi dengan pembuat anggaran. 
Antar birokrat bersekongkol Demi tercapainya sebuah kebijakan bullshit. 
Tak perna peduli Meski kebijakan mirip Ide orang gila. 
Dipaksa tetap berlaku Entah untuk siapa. 

Biarkan kami Terus bermain dengan tanah Tanpa alas kaki hanya untuk mencari sebuah kebijakan yang Mungkin masi tersembunyi. 
Teruslah membuat Texans 
Dan kami Siap menerima bencana.

Minggu, 31 Mei 2020

Nasib Tak Senasib

Jangan membahas luka di depanku, 
aku terlahir dari kesalahan semesta dengan sejuta sayatan luka di sekujur tubuh. Sudah fasih bibir kering ini melantunkan elegi, 
sang pencipta kerlip bintang pun tanpa menoleh tahu itu suaraku. 

Jika kaumemilih terluka karena kebodohanmu, akupun sama denganmu, karena kebodohanku aku memilih bahagia.
 Katamu hidup pilihan, kan? 
Aku memilih bahagia karena bosan bernego dengan takdir. 

Jika kebahagiaanku melukaimu atau mereka, itu bukan salahku. Itu kesalahan kalian yang gagal memanagement hidup, gagal memilih langkah. Tak usah mencari kambing hitam atas kebodohanmu atau mencari jamaah untuk turut serta menikmati desahan lukamu. 

Aku egois? 
Terserah yang menilai, yang pasti, meskipun tubuhku hanya sekumpulan nanah, aku tak memercikannya pada setiap orang yang kutemui di jalan. Ataupun menjual air mata demi sekeranjang perhatian, apalagi belas kasihan. 

Ya, sebagai seorang laki-laki 
aku ta kpandai menjahit baju, 
namun untuk sekadar menutupi tubuh nanah ini aku mampu membebat kain.

Busuk ....
Ya, aku memang busuk! Sebab itu aku menghipnotis dengan senyuman, setidaknya ibuku berkata senyumku manis. Meskipun kutahu dia berbohong. 

Untukmu di pojok beranda manapun, yang terluka karenaku. Aku tetap meminta maaf, walaupun aku tak mempunyai kewajiban untuk itu.(edo