Jakarta Vigilante.
Hari itu minggu. Hujan semalam yang baru saja redah masih menyisahkan aroma tanah yang lama ditindas aspal jalanan.
Arvril sudah menikmati kopi paginya sedari subuh. Untuk keenam kalinya ia membakar ujung rokoknya. Dimainkan asap tebal dari bibir gelapnya akibat kecanduannya pada batangan kretek tersebut ke udara.
Ia tampak aneh. Antara bingung dan gelisah saya tak dapat memastikan itu.
Arvril...
Aku menghampirinya sambil menyapa.
Ia tampak terkejut.
Ku teguk KopiNya yang hampir menyisahkan ampas.
Aku dan avril selalu begitu. entah siapa yang menyeduhkan kopi itu kami selalu menikmati bersama dalam secangkir. Kami ngekos bareng di daerah kumuh,belakang perumahan elit pondok indah,Kebayoran.
Aneh banget daerahnya. Depannya perumahan elit, belakangnya daerah kumuh.
Kita seperti hidup dan tidur diatas sampah kaisar dibalik pagar bata setinggi 3 meter itu.
Jakarta Vigilante itu sudah merubah hidupku.
Avril memulai ceritahnya sambil memainkan asap kreteknya ke udara.
Aku mulai bingung.
Mungkin arvil sedari tadi sedang ngigo karena kebiasaan tidurnya selekas solat subuh.
Ada apa dengan jakarta Vigilante ? Tanyaku penasaran !.
Kita telah dibohongi aparat dan kaisar istana negri ini.
Aturan dibuat untuk dilanggar.
Semua kericuhan dan problem negri ini seolah ada sutradara yang sudah menulis skenarionya.
Aku makin bingung dengan penjelasannya.
Kita seolah menghadapi kasus dalam negri yang Sejatihnya itu adalah hasil dari buatan pejabat publik sendiri.
Di satu sisi sebagai pengalihan isu,
Sisi lain sebagai upaya untuk mengejar sensasi.
Benar-benar seperti negri dongeng.
Avril menghela napas panjang, penuh emosi.
Buku sejarah pejabat mencatat persaingan ketat antar Konglemerat untuk memperkaya diri, dari cara licik hingga langkah hitam dibuatnya hanya untuk menjungkalkan lawannya.
Tak hanya sampai disitu, kaum Konglemerat berlombah menyewa preman kota yang dianggap paling garang dengan link terbanyak hanya untuk menjaga secarah individu ataupun untuk mejalankan aksi licik untuk melawan pesaingnya.
Aku baru sadar kalau selama ini kepanikan-kepanikan rakyat adalah buatan pejabat.
Kita digiring seperti anakan domba,kemana saja sang gembala itu menginginkan tujuan tertentu.
Lahan kita digusur,
Hak kita dirampas bahkan sampai pada hak dasar kita diporoti habis-habisan oleh penguasa.
Benar-benar tak bermoral.
Aku tak lagi mendengar dan merasakan nilai pancasila dibalik gedung pencakar langit itu. Di gedung bupati dan gubernur.
Di istana para kaisar negri ini.
Jangankan merasakan,ingatan Mereka saja sudah sirnah. Apalgi perilakunya. Yang ada dalam hati dan pikiran mereka hanya harta dan kedudukan walau dengan cara memeras rakyat hingga menjual bangsa.
Pancasila telah dikubur beserta semangat para pendiri bangsa.
Bagaimana menurut anda?
Arvil berbalik tanya padaku.
Ya aku juga demikian.
Bahwa tujuan bangsa seolah berubah, dari mensejatrakan berubah jadi menyengsarakan.
Ah,aku Sunggu tak menyangka mendapatkan buku itu .Benar-benar mengguga Nyali.
Terimahkasi siti.
Arvil menghabisakan kreteknya dan membuang puntung ke arah tangga.
Saking kesalnya ia berdoa agar ada pejabat yang lewat agar puntung kreteknya itu menyelinap dibalik saku jas atau rambut mereka agar bisa mengerti tentang emosinya saat ini.
Sambil tertawa nyinyir aku menyinggung nama siti yang sempat disebutnya tadi.
Siti adalah perempuan paling istimewa buat arvil.
Beliau adalah guru diluar jam sekolahku, dia yang bisa merubah pikiran dan berhasil menuntuntunku sesuai arah pikiranku kejalan yang benar.
Dia banyak berbuat hal luar biasa untukku.
Dari belajar bersama.
membahas banyak hal aneh, mulai dari aturan aneh,mencetuskan teori konyol hingga hal-hal pornografi yang menurutku adalah hal Manusiawi dan sebagai bentuk penghargaan atas sang pencipta.
Namun siti tetap menganggapku seperti bapa bangsa yang dijuluki sebagai pria flamboyan.
Ah dasar mindset mesum.
Otak lu udah dimakan sebelah oleh setan napsu.
Ahahah...
Aku selalu tertawa ketika mendengar ucapannya itu. Demikian kata arvil tentang siti sang pujaannya itu.