Postingan Populer

Kamis, 30 April 2020

Negri Ngeri


Negri Ngerih. 
°/Amsu ValLentino 


jelaskan kepadaku: negeri macam apa ini?

ketika jumlah pengangguran terus bertambah 

dan jumlah keluarga miskin makin banyak,

ketika harga-harga tak henti naik berlipat

dan bahkan tahu serta tempe tak lagi bisa terbeli oleh rakyat

Petinggi negri hanya cengenges

memapar angka-angka yang dia kata patut diyakini sebagai indikator

bahwa keadaan rakyat, keadaan masyarakat dan bangsa ini

dari waktu ke waktu terus membaik.

 aku tak tahu. 

aku yang picek ataukah petingggi negara yang buta?

aku tak tahu. 

aku yang terlanjur tak bisa percaya angka-angka

ataukah petinggi negara yang sedang menebar dusta?

angka-angka tak pernah membuktikan apa-apa

karena yang kutahu adalah bahwa dari hari ke hari

makin banyak orang yang bisa makan hanya di dalam mimpinya.

itulah sebab mengapa busung lapar, beri-beri, buruk gisi, buyuten

dan ngantukan bertebaran di berbagai penjuru negeri.

menyerang bayi, balita, anak-anak, remaja, orang tua-orang tua,

dan perempuan ataupun laki-laki. bahkan juga menyerang waria!

tapi apa kata menteri kesehatan dari Petinggi negara itu?

sambil sesekali menepuk-nepuk pipi kiri dengan kertas tisue 

lantaran ia pikir pupurnya melumer oleh sorot lampu kamera televisi swasta,

menteri kesehatan dari petinggi negara kita itu berkata, “tidak..., tidak..., 

bukan.., bukan saudara. itu bukan beri-beri. bukan busung lapar. 

bukan buruk gisi. 

begini ya..., saya ingin katakan pada teman-teman wartawan..., 

itu karena mereka kurang menjaga kebersihan lingkungan. 

juga karena rumah-rumah mereka tidak memiliki cukup ventilasi udara...”

marah dan sedih, sedih dan marah,

bukan karena minum dan terus minum tapi tak kunjung mabok,

bukan karena frustrasi atau apa lagi merasa tak berdaya,

bukan karena bertahun menggapai sia-sia,

aku kluyuran, limbung, gluyuran dan bentoyongan

dari satu wajah ke lain tanah, dari satu hari ke lain hati.


       

Dihari ke 30,Besoknya tanggal 01-Sebelum April .#LDS 🌹

Dihari ke 30
Besoknya tanggal 1
Sebelum April...
An:LDS🌹


Aku mendatangimu lewat tulisan dengan setengah kantuk yang menjulur kebidang retina.
Arvil, dini harimu sedang dingin, bukan? Jangan lupa sarungkan nowi disekujur tubuhmu, agar kau merasa hangat Ibu itu selalu dekat, dan tak perna jauh. Dihari ke 30 sebelum April kamu pasti tahu
Barangkali dari semula semuanya, ini cara kebetulan bekerja dengan betul. Sesubuh ini saya tidak mempermasalahkan tentang teori Einstein bahwa semesta itu inteleigibel, mentoknya juga kamu pasti mengakhiri dengan mengklaim sebagai tanda bela diri bahwa _teori itu sebatas pendapat orang kok_ lalu kita akhiri dengan tertawa, sambil saya menyahut _Oke kita buat teori sendiri, siap Pimpinan_ sambil tertawa lagi

Semenjak Buitenzorg, sebuah kota yang diklaim penjajah sebagai kota tanpa risau yang didalihkan silam oleh bangsa yang terkesan angkuh tapi nyata,  dengan membuat pepatah sendiri bahwa Tuhan menciptakan seluruh dimuka bumi, kecuali Bangsa mereka, karena mereka diciptakan oleh orang-orang mereka sendiri. Kota itu telah menemukan kita dalam remang bertemperatur dinging menggigilkan kuku, tapi setelah itu katamu, sesungguhnya itu awal dari kehangatan hingga panjang umur sampai hari ini, sambil menyodorkan syukur dari balik kolom chatingan dua minggu lebih lalu

Arvil...
Kalau kita katakan pertemuan kita hanya berkutat pada konpirasi puisi, aku pikir sejauh ini kita keliru. Kita bahkan lebih dari itu, lebih gila dari kejiwaan pasien rumah sakit jiwa, lebih tebal dari hasrat koruptor untuk membabat dunia, mungkin. Karena hal sekecil apapun selalu kita keker menggunakan lubang sedotan _Tidak ada yang tidak mungkin, bukan_ Hahaha

Kita sama-sama memimpikan dunia seperti sebuah lagu berjudul Dona dalam Film dokumenter seorang pencinta gunung 

Arvil...
Atheis yang sering kita bahas tidak punya ruang kebebasan layak ditubuh negeri ini. Apalagi kita omong mengenai pasangan suami istri beda agama dinegara ini dianggap suatu hal yang kontroversional. Karena di mainset orang-orang negeri ini bahwa dogma agama adalah alat yang tidak punya dosa sama sekali. Arvil, hidup dewasa ini kebebasan itu sungguh mutlak, tetapi mungkin bukan jalan terakhir. Ada satu jalan lagi untuk ditempuh sebelum itu semua adalah mendesak untuk menghadirkan keadilan

Arvil...
Aku mendatangimu lewat tulisan sesubuh ini dengan diam tapi bersuara mendahului ayam jantan berkokok dan imam mesjid menggaungkan sahur 

Arvil, jangan jatuh cinta, yah
Jatuh cinta bukan hal abadi didunia. Besok atau lusa kita mati dan perkara cinta hanya milik seutuhnya waktu yang kapan saja bisa siap didaur ulang. Aku lebih suka kita hidup sebagai manusia dengan kasih dan sayang tanpa jedah, mengalir terus seada dan sesederhanya, hidup dengan tujuan tak lain tak bukan menghargai ciptaan pencipta. Berbuat dosa lalu mohon do'a kerjaannya. Ujung-ujungnya tetap mencari pemakluman _Manusiawi kok_. Dasar sialan! Otak dimanjain banget kaya istri simpanan pejabat Hahaha

Arvil...
Demi apapun, saya harap rasa sayang didadamu tetap menyala untuk kita. Untuk penghabisan April ini, maafkanlah dirimu, maafkanlah semuamu. Belajar menerima diri dalam rupa hina, rugi, tak punya apa-apa sebagai bentuk keragamaan hidup dan jangan lagi menyalahkan apa dan siapapun. Lunakan hatimu memaafkan semua. Mereka ada barulah kita juga ada, tunduk dan hormat mereka sebagai anak manusia

Aku akhiri ya
Sudah terlihat waktu datang menggotong sahur mendekatiku 
Selamat berpulas sampai terbit orbit besok Pagi
Jangan lupa baca ini, sambil ngopi☕

Salam sayang sesebuh ini
Lds🌹
30 April 2020

Selasa, 28 April 2020

#DirumahSaja




                      Dirumah Saja  



Mereka suruh kami dirumah saja. 

Tapi kami tak punya rumah 

Mereka memberi bantuan pada ruma 

Kami tak punya rumah

Kami tidur di jalanan yang kami anggap sebagai rumah sendiri. 

Namun mereka usir dan mencurigai kami sebagai pembawa wabah. 

Kami tidur dirumah Tuhan. 

Namun mereka menutup tanpa sedikitpun celah. 

Lebih baik kami terpapar wabah. 

Jikapun mati atau setidaknya kami dalam keadaan kenyang dan memiliki rumah.

Rumah dijalanan.


#AV 

Senin, 27 April 2020

Mo Ma'a Nengga

JANGAN ADA OPORTUNIS DI TENGAH  PERJUANGAN MELAWAN CORONA 


Tino-valent. blogspot.com.Dilansir dari beberapa media Nusantara ,Seniman Nusantara yang juga Kader PDI Perjuangan, Iis Sugianto, mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Presiden Jokowi atas resminya beroperasi RS Khusus Corona di Pulau Galang hari Senin lalu (6/4).

Iis sangat kagum dengan gerak cepat tanggap Jokowi menghadapi wabah pandemi virus Corona atau Covid-19 dengan membangun RS Khusus yang hanya dibangun dalam hitungan hari saja, yaitu 20 hari. 


"Saya sangat bangga, pemerintah di bawah komando Pak Jokowi cepat sekali bisa membangun RS Khusus Covid-19 hanya dalam beberapa hari saja. Terus berjuang Indonesiaku, kita semua akan menjagamu, berkarya dan berdoa dari rumah," ungkapnya kepada Gesuri, Senin lalu (6/4).

Untuk itu, Iis berharap agar pasien Corona bisa dirawat dengan baik sehingga virus tidak lagi menular ke orang-orang yang sehat. 

Di tengah pandemi Corona saat ini, Iis juga menegaskan agar seluruh masyarakat Indonesia tetap waspada tak hanya terhadap bahaya virus Covid-19. Namun, lanjutnya, juga kepada pihak-pihak yang hanya akan menambah kesusahan pemerintah, bangsa dan negara dengan mengambil kesempatan di tengah kesulitan wabah pandemi ini.


"Tetap waspada bukan hanya Covid-19 musuh kita tapi berbagai pihak bahkan politikus-politikus jahat yang mau mengambil kesempatan dalam kesempitan negara kita tercinta yang tengah berjuang melawan pandemi yang mendunia ini," tegasnya.

Iis menambahkan seluruh dunia saat ini sedang dalam kondisi prihatin, bukan hanya Indonesia, maka mari bangkit bersama memberi sumbangsih bagi negara kita yang dimulai dari diri kita dan keluarga kita," pungkasnya.

Sementara itu, Rumah Sakit Khusus Darurat Corona di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, pada Senin lalu (6/4) mulai beroperasi. Meski demikian, rumah sakit khusus penanganan pasien Covid-19 ini belum menerima pasien.

Pembukaan rumah sakit ini diresmikan langsung oleh Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Pangkogabwilhan I, Laksamana Madya TNI Yudo Margono.

Meski telah beroperasi, rumah sakit belum bisa menerima pasien disebabkan masih melakukan penyesuaian dan uji fungsi peralatan medis, dan uji tugas tenaga medis.

Kapasitas rumah sakit ini sejumlah 260 kamar untuk ruang observasi, untuk PDP 100 kamar, dan ada juga ruang ICU. Sedangkan untuk tenaga medis berjumlah 200 orang.

Total kapasitas rumah sakit darurat Corona di Pulau Galang ini mencapai 1.000 ruangan.

Adapun peresmian rumah sakit ini ada dua tahap, tahap kedua akan dilakukan setelah beroperasi.



Jumat, 24 April 2020

Pasar Watohone Dibuka Kembali Demi Menjaga Stabilitas Ekonomi. Tim SATGAS Dituntut Kerja Ekstra.

Pengambilan Keputusan atas penutupan Pasar Watohone Desa Kenotan oleh Pemerintah Desa(PemDes) Kenotan adalah salah satu langkah atas pencegahan penyebaran virus Covid19 yang menjadi pandemi global ini. 

Keputusan ini dinilai positif atas wabah yang akir-akir ini makin meresahkan masyrakat. 
Seiring berjalannya waktu dengan penutupan pasar tanpa ada waktu pasti atas pengaktifan kembali mulai menimbulkan polemik besar bagi masyarakat. 
Persoalan utama yang menjadi polemiknya adalah "tidak ada jalan keluar dari pemerintah desa untuk mengatasi masalah ekonomi masyarakat, karena keterpurukan ekonomi yang menderah masyarakat setelah penutupan pasar ini dilakukan".

Pemerintah seakan mendapatkan blunder dari masyarakat atas desahkan ekonomi yang makin memburuk. 
Untuk menjawab semua persoalan masyarakat ini, pemerintah Terbilang cekatan dengan mengambil keputusan secarah cepat.
Pengaktifan kembali pasar watohone adalah jawaban atas desakan masyarakat. 

Dilansir dari Bentara. Net, 
Kepala Desa Kenotan mengiyakan atas pengaktifan kembali pasar watohone. 
Namun dengan catatan "Semua pengunjung harus didata dan wajib memakai masker serta di cek suhu tubuh "
Ini dilakukan untuk proses pencegahan penularan Covid19. 

Adapun strategi dari pihak pemerintah Desa Kenotan melalui SSTGAS untuk bekerja sama dengan tim SATGAS kecamatan Adonara Tengah untuk membangun posko Covid19 di dua pintu utama menujuh pasar. 
Yaitu dari pintu timur untuk masyarakat dari arah adonara timur dan sekitarnya, sedangkan dipintu barat untuk masyarakat dari kecamatan adonara Barat. 
Kepalah Desa Kenotan juga menegaskan untuk semua Masyarakat agar wajib mengikuti protap kesehatan. 

Dari langkah ini, 
Timu utama pencegahan Covid19(SATGAS),dipastikan akan bekerja lebih ekstra dan penuh ketelitian. 
SATGAS adalah benteng kedua setelah dari pribadi seseorang dalam upaya pencegahan penyebaran virus Covid19 ini. 
Dan diharapkan agar TIM SATGAS sebagai garda terdepan dapat memberikan Infirmasi dan edukasi yang lebih manusiawi kepada seluruh masyarakat. 
(tino lein) 

Kamis, 23 April 2020

Dona Dona dan Soe Hok Gie

Berawal dari membaca buku tentang kisah perjalanan seorang Soe Hok Gie  yg merupakan seseorang yang punya hobi mendaki gunung dan menulis ini, saya selalu risih dengan sebuah kalimat yang menyatakan bahwa Sebuah lagu yang paling berkesan untuk seorang Soe Hok Gie  adalah lagu Dona Dona yang di nyanyikan penyanyi terkenal  dari amerika Joan Baez .namun risih itu membuat saya semakin penasaran untuk mencarinya. Pertama kali mendengarkan lagu Donna Donna yang di nyanyikan penyanyi terkenal  dari amerika Joan Baez saya langsung suka dan sedikit merinding, irama nya yang cukup dark namun memiliki arti yang sangat dalam menyihir siapa pun yang mendengarkan lagu yang sudah di nyanyikan bahkan sebelum Joan Baez mempopulerkan lagu ini keseluruh dunia.  

Karena rasa penasaran saya akan makna lagu yang menjadi salah satu lagu yang paling di sukai mendiang Soe Hok Gie dan tentu menjadi salah satu lagu soundtrack di film GIE ini, saya membuat sebuah rangkuman sederhana akan makna dan sejarah di balik lagu Donna Donna ini.

Dona dona, tau yang banyak di kenal dengan pengejaan Donna, Donna ini merupakan sebuah lagu yang menggambarkan teriakan seekor anak sapi yang terkekang diatas kereta yang akan membawanya ke tempat pembantaian, konon sang penulis menganalogikan dirinya sebagai anak sapi yang akan di bantai oleh NAZI yang sedang berjaya di jerman kala itu.  

Lagu ini sendiri di tulis oleh seorang Shalom Secunda seorang komposer amerika keturunan yahudi ukraina dan Aaron Zeitlin anak dari seorang penulis dan sastrawan besar yahudi Hillel Zeitlin

Lagu Donna Donna sendiri mereka ciptakan pada tahun 1941 dengan judul asli Dana Dana yang di tulis menggunakan bahasa yiddi atau yiddish sebuah bahasa Germanik yang di tuturkan oleh umat yahudi eropa timur dan juga di sebut sebagai bahasa Jerman-Yahudi.  

Pada pertengahan tahun 1950 an Arthur Keeves dan Teddi Scwartz menterjemahkan lagu ini kedalam bahasa inggris, pada tahun 1960 Penyanyi Joan Baez menyanyikan lagu ini, dengan judul Donna Donna yang awal nya Dona Dona. 

Versi indonesia sendiri lebih terkenal di bawakan oleh Ira (Sita Nursanti) salah satu pemeran film GIE sambil memetik gitar pada adegan di sebuah malam pentas seni.

Lagu ini syarat akan kondisi di jerman saat itu, dimana pembantaian akan kaun yahudi sangat gencar dilakukan oleh tentara NAZI, ribuan orang banyak di bawa ke kamp konsentrasi untuk di bunuh secara keji, seperti domba yang akan di seret untuk di bantai seperti lirik di lagu ini.  

Secara garis besar lagu ini menggambarkan akan makna sebuah kebebasan, tentang hak menentukan pilihan, tentang keharusan kita untuk bergerak, bagaimana kita mendapatkan kebahagian di tengah derita, bukan untuk menyerah

Pada Penggalan Lirik di bait pertama menggambarkan seeokor anak sapi yang sedang dalam perjalanan menuju tempat pembantaian dan anak anak sapi tersebut memiliki mata yang berduka, jauh tinggi diatas sapi tersebut terbang bebas seeokor burung walet yang mengepakan sayap nya cepat ke angkasa.  

Di penggalan tersebut kita dapat menyimpulkan sebuah analogi ketidak adilan anatara anak sapi yang di analogikan sebagai kelemahan dan tanpa kekuatan menerima takdir untuk di bantai dan burung walet yang memiliki kekuatan serta kebebasan. 

Di bait kedua, "angin menertawakan sapi tersebut dengan sangat puas, tertawa terus sepanjang hari hingga setengah musim panas".  Ini dianalogikan kelemahan yang dimiliki anak sapi tersebut yang kemudian di tertawakan oleh lingkungannya sendiri yang semakin membuat anak sapi itu terpuruk dan ini berlangsung sangat lama dimana lingkungannya menertawakan kelemahannya.

Di bait ketiga berbunyi, "berhentilah mengeluh kata petani, siapa suruh kau jadi anak sapi.  Kenapa kau tak punya sayap dan terbang seperti burung walet".  

Dalam bait ini kita tidak diperkenankan untuk mengeluh seperti dalam kata "siapa suruh kau jadi anak sapi" yang menegaskan bahwa kita mempunyai pilihan, kita yang menentukan ingin menjadi burung walet atau anak sapi, yang menentukan kita akan bebas dan merdeka atau terikat Apa yang kita pilih adalah itu lah yang kita tentukan, ingin menjadi kuat atau lemah, terkekang atau merdeka, mudah atau susah merupakan pilihan yang kita ambil dan tentukan sendiri yang berkorelasi dengan takdir. 



Di bait kedua, "angin menertawakan sapi tersebut dengan sangat puas, tertawa terus sepanjang hari hingga setengah musim panas".  Ini dianalogikan kelemahan yang dimiliki anak sapi tersebut yang kemudian di tertawakan oleh lingkungannya sendiri yang semakin membuat anak sapi itu terpuruk dan ini berlangsung sangat lama dimana lingkungannya menertawakan kelemahannya.

Di bait ketiga berbunyi, "berhentilah mengeluh kata petani, siapa suruh kau jadi anak sapi.  Kenapa kau tak punya sayap dan terbang seperti burung walet".  

Dalam bait ini kita tidak diperkenankan untuk mengeluh seperti dalam kata "siapa suruh kau jadi anak sapi" yang menegaskan bahwa kita mempunyai pilihan, kita yang menentukan ingin menjadi burung walet atau anak sapi, yang menentukan kita akan bebas dan merdeka atau terikat dan lemah seperti anak sapi.   

Apa yang kita pilih adalah itu lah yang kita tentukan, ingin menjadi kuat atau lemah, terkekang atau merdeka, mudah atau susah merupakan pilihan yang kita ambil dan tentukan sendiri yang berkorelasi dengan takdir.  


Secara garis besar lagu ini menggambarkan akan kelemahan diri dalam menentukan pilihan yang kita ambil, terkadang tekanan memang selalu hadir bahkan dalam lingkungan kita sendiri.  


Namun kita di berikan pilihan untuk menentukan dan memperbaiki apa yang telah terjadi.  Kelemahan memang menjadi sebuah masalah yang menghalangi kita, namun bukan hanya dengan mengeluh tapi kita harus mengambil tindakan bukan hanya menerima takdir. 

Sekali lagi lagu ini memang di ciptakan kala situasi di jerman kala itu, tekanan dan kelemahan yang di terima kaum yahudi kala itu menjadi sebuah masalah besar.  

Tak sedikit korban kekejaman NAZI saat itu, ribuan bahkan jutaan orang harus meregang nyawa di kamp konsentrasi saat itu, dan lagu ini menjadi gambaran situasi saat itu dan menjadi dalam maknanya hingga saat ini.

Soe Hok Gie sangat menyukai lagu, bahkan filmnya terselip kata "Kalo kita ingin hidup bebas, kita harus belajar terbang" sama hal nya seperti makna dalam lagu Donna Donna. 


Flamboyan Yang Semakin Egois Pada Rantingnya

surat duka buka di kotak
isyarat kepada paduka ber'otak
kota kota kecil noktah ber'nota
mula mula bumi ku di guncang lagi
mulai strategi ancang ancang si petaka gigih
lancang gemuruh siulan sialan sumbing 
sumbang kumbang kecil di kucil
kambing hitam hantam terpencil
biarkan dia hilang di peta kah !!!
katanya ??
yah memang nyatnya !!!
minim diperhati
yg katanya bhineka tunggal ika semboyan sejati
lalu kenapa flamboyan doyan pentingkan ranting sendiri
acuh paricu pada yang tak penting
bumi ku ini tak semegah samarinda
tapi kalau di samakan permai di samar indah
bumiku ini tak seramai sukabumi
namun sering gemuruh suka bunyi
suka di kebumi
kadang kala disangka sangkakala
bumiku
bunyi semi 
gempar gempa sepih sepah 
lalu yang manise...itu di manakah ?

             Amsu ValLentino 

Nekad dan Nyawa

    sumber gambar:  @napaskata

Nyawa manusia bukan tragedi tontotan dan statistik belaka, ya, lebih baik tidak berangkat terbang daripada tidak pernah tiba."

Demikian motivasi hidup yang dimiliki oleh bayu ketika pertama kali merantau, 
Mengaduh nasib dinegri orang. 
Kesehariannya dibilang cukup rumit. 
Namun semua itu tidak pernah terlihat dibalik senyumnya, meskipun kita tau bahwa senyum itu hanya untuk menutupi luka dan lebam yang dirasainnya. 

Bermodalkan nekad dan keterpurukan itu dia berusaha bangkit. 
Mencoba menerobos setiap pagar penghalang, yang hanya ingin bertujuan sukses dikemudian hari. 
Mencari pekerjaan adalah langka awal baginya untuk mempertahankan hidup. 
Terlalu banyak instansi yang telah dia kunjungi hanya untuk mengantarkan surat lamaran kerja. 
Namun hingga tiga bulan tak ada jawaban dan kepastian dari hasil surat tersebut. 
Nasib malang malah menghantuinya. 
Sakit kronis yang bertamu pada dirinya seakan memukul batinnya. 
Segalahnya semakin tambah rumit. 

Mau bangkit dan melawan? 
Penyakit itu malah tambah parah. 
Diam dan bisu ditempat? 
Mungkin hidupnya hanya sampai disitu. 

Begitulah yang tiap hari selalu ada dalam pikirannya. 
Memukul dan perlahan mulai menggerogoti dirinya. 

Setelah dua minggu terbaring lemah diatas kasur kumu miliknya, ia seakan tak percaya. 
Memang benar Tuhan itu selalu ada buat orang lemah. 
Ia ditawarkan bekerja sebagai security disebuah ruko ternama dekat daerah tenmpat tinggalnya. 
Meskipun masih lemah ia harus bangun. 
Kadang tak tegah melihat penyakitnya makin disakiti oleh kerjaanya. 

"Aku kuat ko, Aku tidak apa apa, 
Aku sudah sembuh. "
Itulah kata yang aku dengar dari bibir layunya yang sempat termakan sakitnya. 
Ya, mungkin benar tetapi lebih banyak tidak. 
Itu hanya cara untuk menutupi lukanya. 
Agar terlihat kuat dan biasa saja seperti hari hari sebelumnya. 
Tak pernah mengenal ksih sayang dari orang tua semasa kecilnya hingga sekarang seakan membuat dia tak heran dengan keadaan yang dia alami sekarang. 
Ah, susah itu bias!
Aku sudah mengalaminya sejak masuk usia SD. 

Sungguh, 
Bukan lagi malang melainkan keji yang dia alami. 

Bermodal gaji  Rp. 600.000 diawal masa kerjanya,ia harus pintar pintar mengatur penghasilannya itu. 
Mulai dari bayar kos, uang makan dan uang untuk membeli obat untuk penyakitnya mengharuskan dia untuk mulai hidup hemat. 
Tak pernah makan enak. 
Ah, sudah biasa katanya. 
Namun penyakitnya menolak dengan ungkapan itu. 
Tapi ia harus melawan. 
Tidak akan cukup uang tersebut untuk memenuhi janji makanan pada penyakitnya itu. 
Kesehariannya banyak ditemani oleh kerjaaan dan buku yang ia bawa dari kampung. 
Menulis adalah hal yang ia lakukan untuk mencari kesibukan bila lapar itu datang menyapanya. 

"Eh, Puisi lu kan banyak. 
Kirim aja di tempat kerjaan gue, 
Siapa tau diliput dan bisa menghasilkan uang". 
Begitu kata temannya ketika membuka buku kusutnya yang dipenuhi coretan puisi itu. 
Dia mulai mencoba mengirim hasil tulisan itu. 
Pertama, tulisannya tidak masuk dalam nominasi namun ia berhasil mendapat uang santunan sebesar 100 ribu. 
"Ah lumayan buat uang makan seminggu ".
Demikian katanya. 
Kesehariannya selalu disibukan dengan buku tulis tersebut. 
Ia terus mencoba mengirim karya tulisnya. 
Dan sering mendapat posisi 5 besar. 

Dari tulisan dan keuletan itu, ia akirnya dipanggil untuk bekerja dikantor majalah tersebut. 
"Ah, tidak mungkin.ini pasti hayalanku berlebihan".
Begitu katanya ketika pertama kali menerima surat undangan dari atasan majalah yang telah banyak memberi rejeki padanya itu. 
Dengan air mata yang terus jatuh dari kelopak matanya,ia bergegas menuju kantor tersebut untuk melakukan interview. 
Entahlah. 
Tuhan yang adil atau atasan yang curang. 
Hari itu juga ia mulai bekerja untuk kantor tersebut. 

Tiap hari dijalaninya dengan penuh ketekunan. 
Suatu hari,ia mendapat kesempatan yang sebenarnya jarang didapati pegawai kantor tersebut. 
Ia dipercayai atasan untuk mewawancarai salah satu orang elit di kota tersebut. 
Dia pun berhasil melakukan tugasnya dengan baik. 
Namun, ketika bahagia itu semakin membaluti pikirannya sakit itu malah datang tiba tiba yang membuat dia harus di rawat intensif. 
Setelah beberapa minggu dirawat, ia akirnya pulih. Meskipun belum sempurnah. 


Ketika sakitnya itu kian rumit. 
Seseorang yang tidak disengajai akirnya hadir dalam hidupnya. 
Entahlah, 
Mungkin itu kiriman Tuhan untuknya. 
Seseorang yang selalu memberi dia semangat. 
Seseorang yang kini jadi teman bicara, 
Yang jadi panutan dan pedoman hidupnya. 
Bangke (Nama samaran) .
Sebut saja begitu panggilanya. 
Berangkat dari keterbukaan mereka akirnya saling mengenal masa lalu antara satu dengan yang lain. 
Hari harinya kini semakin bersinar. 
Mungkin inilah cahaya hidup yang dikirimkan Tuhan untuknya. 
Semakin lama mengenal dan semakin tak menginginkan untuk berakir. 
Demikianlah harapan yang selalu ada dalam pikirannya.
Seseorang yang kini telah menjadi bagian dari kisah hidupnya. 


Hingga kini siBayu masih saja bertempur dengan tulisan. 
Dia semakin terinspirasi dan kuat akan cahayanya itu. 
Dan seakan tak mau kehilangan cahaya tersebut. 

"Salah satu karya siBayu yang paling ia sukai", 

Dengki beranak pinak, menjejal otak, jiwa terjebak 
Tak kuasa menolak, apalagi berontak, tak bisa teriak 
Sebab kursi memberi janji, dasi lambungkan mimpi 
Tentang duit rakyat yang bisa mengalir ke kantong pribadi 

Rakus lebihi tikus, selalu haus, hidung terus mengendus 
Terapkan bermacam modus, pakai trik dan jurus, sampai mampus 
Hindari setiap kasus, licin tak terendus 
Lontar ujaran berbau kakus, tipu tipu berjalan mulus 

Tanpa ragu manipulasi data, berita hoax jadi nyata 
Kambing hitam jadi cara, tutupi tindak durjana 
Setan bertopeng malaikat, lancarkan tipu muslihat 
Di atas nama rakyat, mereka berbuat maksiat

Kebenaran diputar balik, jadi akrobat jungkir balik 
Kemakmuran diselewengkan, dibungkam beragam intrik 
Muka rakyat ditutup topeng, gambarkan wajah penuh bopeng 
Mulut tajam diplester paksa, hingga suarakan rintihan cengeng 

Di balik tumpukan sampah, tempat lalat berpesta pora 
Orang pinggiran menyeka air mata, tuk pelepas dahaga 
Di gorong gorong berair kotor, tempat tikus mendengkur 
Orang kecil rebahkan jiwa, karena gubugnya tergusur 

Pada air comberan, rakyat kecil menitip harap
Pada udara beracun, mata rakyat kecil menatap 
Sebab kesuburan tanahnya telah dirampok orang 
Asin air lautnya telah dikuras sebagian dalang 

Di selangkangan perawan tua, kita dipaksa onani 
Agar tak lagi bermimpi tentang indahnya negeri 
Di atas tubuh keriput, kita diwajibkan masturbasi 
Agar kita lupa kekayaan negeri yang dipolitisi

AV-
Djakarta, 3 september 2019.

Selasa, 21 April 2020

Pandemi Lama Semakin Membabi Buta

Dengki beranak pinak, menjejal otak, jiwa terjebak 
Tak kuasa menolak, apalagi berontak, tak bisa teriak 
Sebab kursi memberi janji, dasi lambungkan mimpi 
Tentang duit rakyat yang bisa mengalir ke kantong pribadi 

Rakus lebihi tikus, selalu haus, hidung terus mengendus 
Terapkan bermacam modus, pakai trik dan jurus, sampai mampus 
Hindari setiap kasus, licin tak terendus 
Lontar ujaran berbau kakus, tipu tipu berjalan mulus 

Tanpa ragu manipulasi data, berita hoax jadi nyata 
Kambing hitam jadi cara, tutupi tindak durjana 
Setan bertopeng malaikat, lancarkan tipu muslihat 
Di atas nama rakyat, mereka berbuat maksiat

Kebenaran diputar balik, jadi akrobat jungkir balik 
Kemakmuran diselewengkan, dibungkam beragam intrik 
Muka rakyat ditutup topeng, gambarkan wajah penuh bopeng 
Mulut tajam diplester paksa, hingga suarakan rintihan cengeng 

Di balik tumpukan sampah, tempat lalat berpesta pora 
Orang pinggiran menyeka air mata, tuk pelepas dahaga 
Di gorong gorong berair kotor, tempat tikus mendengkur 
Orang kecil rebahkan jiwa, karena gubugnya tergusur 

Pada air comberan, rakyat kecil menitip harap
Pada udara beracun, mata rakyat kecil menatap 
Sebab kesuburan tanahnya telah dirampok orang 
Asin air lautnya telah dikuras sebagian dalang 

Di selangkangan perawan tua, kita dipaksa onani 
Agar tak lagi bermimpi tentang indahnya negeri 
Di atas tubuh keriput, kita diwajibkan masturbasi 
Agar kita lupa kekayaan negeri yang dipolitisi

Amsu ValLentino ~

Sabtu, 18 April 2020

Diam Bukan Berarti Mati

Beberapa bulan lalu, , untuk pertama kalinya, saya mengenal sosok Soe Hok Gie justru tidak secarah langsung, sebab dia telah menghabiskan hidupnya di alam yang menurutnya paling memberi kebebasan dan merasa paling tinggi diantara semua manusia. DiGunung Semeru, lebih tepatnya dipuncak tertinggi pulau jawa. Bukan juga dari catatan hariannya yang asli , akan tetapi dari sebuah buku, seorang senior memberikan sebuah buku kepada saya, buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yang legendaris itu. Dan kemudian saya kembali mengenalnya dari sebuah buku berjudul Soe Hok Gie Sekali Lagi. Juga membaca karya-karyanya melalui buku Zaman Peralihan.

Awal-awal saya membaca buku itu,saya masih belum tahu betul bagaimana sosok Gie. Yang saya tahu hanyalah; dia adalah seorang penentang, tukang protes, diam, dingin, pemikir, pembaca buku,dan angkuh. Akan tetapi, setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran itu dan membaca beberapa pengantar didalamnya, Gie adalah sosok yang riang, tidak bisa diam, penyayang binatang juga manusia tentu saja, suka berdebat, supel, dan ramah.

Gie lahir pada tanggal 17 Desember1942 pada saat perang dingin sedang berkecamuk di Pasifik. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan. Gie merupakan adik dari Soe Hok Djien yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.

Sebenarnya, dalam sejarah beberapa Himpunan mahasiswa ada sosok yang mungkin hampir bisa disamakan dengan Gie. Namanya Ahmad Wahib. Sama-sama lahir pada tahun 1942. Bedanya, Gie lahir 17 Desember sedangkan Ahmad Wahib 9 November. Dua-dua adalah aktivis mahasiswa, pemikir, juga sangat aktif menulis catatan hariannya. Dan dua-duanya juga mengalami nasib yang sama: mati muda.

Jika dilihat dari garis organisasi, seharusnya saya lebih mengidolakan Ahmad Wahib daripada Soe Hok Gie. Tapi entah kenapa, saya merasa cocok dengan Gie—walaupun dalam beberapa hal, Ahmad Wahid juga menarik. Jujur saja, jika dibandingkan ketika membaca catatan mereka berdua, saya lebih senang membaca Catatan Seorang Demonstran daripada Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib (di sini saya bukan berarti menganggap bahwa catatannya Ahmad Wahib tidak perlu saya baca, hanya saja ini berkaitan dengan selera dan saya pikir, setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda).

Semenjak membaca Catatan Seorang Demonstran dan Soe Hok Gie Sekali Lagi pada akhir bulan lalu dan kemudian saya lanjutkan membaca buku "sekali lagi" pada awal bulan april , saya semakin jatuh hati dengan sosok Gie. Seorang pemuda Indonesia yang berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Seorang mahasiswa yang tetap teguh mempertahankan idealismenya di tengah ingar-bingar zaman kekuasaan pada waktu itu. Rekan-rekan seperjuangannya begitu bernafsu untuk memiliki kekuasaan, ia lebih memilih sendirian, terasing dan kesepian.

Pada zaman ini, saya belum menemukan seorang mahasiswa seperti Soe Hok Gie: seorang mahasiswa yang tidak hanya belajar dan bertindak berusaha mewujudkan cita-citanya, melainkan juga dengan tekun mencatat apa saja yang ia alami dan ia pikirkan selama kehidupannya. Dan lewat perantara catatan hariannya itulah, saya—dan mungkin Anda semua—mengenalnya dan memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan para mahasiswa dan situasi bangsa dengan berbagai permasalahannya.

Walaupun beberapa orang menilai Gie sebagai seorang yang tak dapat dianggap sebagai ahli sejarah yang baik, tapi setidaknya Gie memiliki sesuatu yang jarang sekali dimiliki oleh pemuda saatitu dan bahkan saat ini: keberanian dan kejujuran. Berkat dua hal itulah, saya sebagai seorang mahasiswa begitu sangat mengidolakannya.

Soe Hok Gie adalah seorang cendekiawan ulung—mungkin juga Ahmad Wahib—yang terpikat pada ide, pemikiran dan menggunakan pikirannya terus-menerus untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya.

Soe Hok  Gie adalah—seperti yang sudah dituliskan Harsja W. Bachtiar dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demonstran—seorang pemuda yang penuh cita-cita dan terus menerus berjuang agar supaya kenyataan-kenyataan yang diwujudkan oleh masyarakat kita dapat diubah sehingga lebih sesuai dengan cita-citanya yang didasarkan atas kesadaran yang besar akan hakikat manusia. Dalam memperjuangkan cita-citanya ia berani berkurban dan memang sering menjadi kurban.

Atau kata Riri Riza, sutradara film GIE, bahwa Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan—dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

Selain menggilai buku, menulis, forum diskusi, pecinta alam, Gie juga pecinta sinema. Ia adalah pendiri kine klub di Fakultas Sastra dan ia juga yang membawa Jules et Jim karya Francois Truffaut, dan Rebel Without A Cause yang dibintangi James Dean ke Fakultas Sastra untuk bisa dinikmati dan didiskusikan bersama kawan-kawannya.

Selama hidupnya, Gie sepertinyatidak pernah bisa untuk duduk diam. Ia seperti super hero yang memiliki pendengaran yang sangat tajam. Di mana adajeritan kaum papa yang memerlukan pertolongan, ia seperti mendengar dan begitu mengusik hatinya. Atau seperti kata kakak kandungnya, Arief Budiman, yang mengandaikan peran intelektual sebagai resi, yang dalam waktu-waktu tertentu meninggalkan pertapaannya untuk mengabarkan keadaan yang buruk. Sebagaimana seorang resi, Gie sebagai seorang intelektual yang tak pernah duduk tenang dipertapaannya. Apapun yang membuat hati dan pikirannya terusik, ia tidak akan segan-segan untuk mengungkapkannya baik lisan maupun tulisan.

Dan tentang peran Soe Hok Gie dalam usaha meruntuhkan Orde Lama dan menegakkan Orde Baru yang dipimpin oleh Jendral Soeharto saya pikir juga tidak sedikit. Dan harapannya kepada rezim Soeharto agar lebih baik—yang mengembangkan dan memperkuat keadilan sosial—daripada rezim Soekarno, ia tidak segan-segan melancarkan kritikan pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapannya tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya, pada tanggal 16 Desember1969, seorang idealis itu telah tiada. Pekerjaan terakhir yang ia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat ia semakin dijauhi dan dibenci oleh teman-teman mahasiswanya yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ia terpencil, sendirian, kesepian; penderitaan. Dalam suasana yang seperti itulah, ia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak Gunung Semeru.

Ketika ia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, ia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib, Herman Lantang, begitu tulis Arief Budiman dalam kata pengantarnya dalam buku Catatan Seorang Demonstran.

Gie dicari dan diselamatkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia dan ditangisi oleh seluruh kampusnya, disambut dengan histerisnya tangisan gadis-gadis yang dulunya menolak semua uluran tangan Soe Hok Gie sendiri.

Kematian Gie membangkitkan suatu hal dalam diri saya. Bahwa ia telah mewakili salah satu aspek dari generasi pasca kemerdekaan.

Ah, sebenarnya saya ingin sekali menguraikan peristiwa kematian Gie. Tapi saya tidak bisa. Sungguh! Akhirnya, meminjam kata Arief Budiman, yang terbangun dari lamunannya pada saat berdiri di samping peti mati Gie: “Gie, kamu tidak sendirian.” 
(@amsuvallentino)

Dana Bansos KIP dan PKH dipercepat pencairannya sebagai salah satu jalur eksekusi bantuan cepat atas pandemi Covid19.

Anggaran Program dan KIP serta PKH Bulan April Cair



Jakarta, tino-valent.blogspot--Dilansir dari beberapa media informasi indonesia, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta III telah mencairkan Bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar Rp12,25 miliar yang diperuntukkan bagi 16.300 siswa dan Bidikmisi sebesar Rp61 miliar yang diperuntukkan bagi 10.100 mahasiswa. Pencairan tersebut dalam rangka percepatan penyaluran bantuan sosial untuk penanganan Virus Korona (Covid-19) sehingga telah dicairkan pada 8 April 2020 lalu. Program Indonesia Pintar/Kartu Indonesia Pintar (PIP/KIP) Kuliah/Bidikmisi Kemendikbud dianggarkan sebesar Rp15,76 triliun. Bantuan PIP diberikan kepada anak usia sekolah (6-21 tahun) berasal dari keluarga miskin/rentan miskin. Nilai bantuan per Siswa yaitu SD: Rp450 ribu, SMP: Rp750 ribu dan SMA: Rp1 juta. Untuk realisasi Program PIP/KIP Kuliah/Bidikmisi Kementerian Agama, pemerintah telah mencairkan Bantuan PIP Madrasah Tahap I (MI, MTs,& MA) pada tanggal 13 April sebesar Rp182,28 miliar melalui KPPN Jakarta IV yang diperuntukkan bagi 530.591 siswa. PKH Cair Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan salah satu bantuan sosial (bansos) untuk masyarakat rentan miskin. Anggaran PKH naik menjadi Rp37,4 triliun dari sebelumnya Rp29,13 triliun. Target penerimanya juga naik 800 ribu, dari 9,2 juta KPM (Keluarga Penerima Manfaat) menjadi 10 juta KPM.

Sejak Januari 2020, anggaran mencapai Rp16,4 triliun dari total pagu sebesar Rp37,4 triliun. Data penyaluran ini sudah termasuk tambahan target Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sebanyak 800 ribu KPM pada masa darurat Covid-19. PKH dialokasikan untuk maksimal 4 orang dalam satu keluarga. Lebih rinci, besaran PKH untuk ibu hamil adalah Rp3.750.000 per tahun, anak usia 0-6 tahun Rp3.750.000 per tahun, anak SD/sederajat Rp1.125.000 per tahun, anak SMP/sederajat Rp1.875.000/tahun, SMA/sederajat Rp2.500.000 per tahun, disabilitas berat Rp3.000.000 per tahun, lansia usia 70 tahun ke atas Rp3.000.000 pertahun. Saat terjadi pandemi Covid-19, PKH disalurkan tiap bulan sejak April 2020 dari yang biasanya triwulanan. (Kemenkeu/EN) #Bidikmisi#KIP#PKH

Sumber: https://setkab.go.id/anggaran-program-dan-kip-serta-pkh-bulan-april-cair/

Jumat, 17 April 2020

Awasi Dana PKH. Kemensos Kaji Bantuan Program Keluarga Harapan Cair Bulanan

Jakarta, tino-valent.blogsopt.com--Dilansir dari beberapa  media harian swasta indonesia, Kementerian Sosial menyatakan akan mengkaji perubahan pola penyaluran bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dari yang selama ini dilakukan tiga bulan sekali menjadi sebulan sekali. Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan kalau jadi perubahan skema penyaluran tersebut akan mulai dilakukan 2020 mendatang.

"Jadwal penyaluran semula empat kali setahun dalam tiga bulan sekali, mudah-mudahan tahun depan bisa dilaksanakan setiap bulan," katanya seperti dikutip dari Antara, Kamis (21).

Harry mengatakan untuk mengubah skema penyaluran tersebut, saat ini pihaknya tengah menguji coba pemajuan jadwal penyaluran PKH. Dengan uji joba tersebut, penyaluran PKH tahap pertama yang dilakukan Februari dilakukan Januari kemarin.

Tapi dalam uji coba tersebut, penyaluran masih dilakukan untuk bantuan tiga bulan. Harry mengatakan kalau uji coba tersebut sukses dilakukan, 2020 nanti pencairan PKH

"Bahkan ada kemungkinan untuk pencairan setiap bulan," katanya.

Harry mengatakan perubahan skema tersebut merupakan lanjutan perbaikan penyaluran PKH yang dilakukan pemerintah. Tahun ini pemerintah juga sudah memperbaiki penyaluran PKH dengan mengubah rumus perhitungan bantuan untuk keluarga penerima. 

Dengan kebijakan tersebut, penyaluran PKH tidak dipukul rata Rp1,89 juta per keluarga. Besaran bantuan diberikan sesuai dengan komponen hidup keluarga penerima bantuan. Misalnya, keluarga yang punya balita akan berbeda kewajiban atau komitmennya dengan keluarga yang punya ibu hamil. 


Keluarga yang memiliki ibu hamil, anak sekolah, anggota lanjut usia dan penyandang disabilitas  juga mendapatkan bantuan tambahan. Pemerintah tahun ini memberikan bantuan tetap Rp550 ribu per tahun bagi setiap keluarga penerima bantuan PKH reguler, dan Rp1 juta per tahun bagi peserta PKH Akses, keluarga yang sulit terjangkau daerahnya.

Selain itu pemerintah memberikan bantuan tambahan bagi keluarga yang memiliki ibu hamil Rp2,4 juta, anak balita Rp2,4 juta, murid SD Rp900 ribu, murid SMP Rp1,5 juta, murid SMA Rp2 juta, warga berusia 60 tahun lebih Rp2,4 juta, dan penyandang disabilitas Rp2,4 juta.

Namun pemerintah membatasi pemberian dana tambahan bagi maksimal empat orang per keluarga.

Rabu, 15 April 2020

Penutupan Aktifitas Pasar Watohone Desa Kenotan Jadi Pandemi Baru Setelah Lockdown karena Covid19

Menurunnya laju perputaran roda ekonomi jadi wabah baru paling mematikan setelah Covid19 

 Salah satu pandemi baru yang akir-akir ini menjadi perbincangan hangat dikalangan publik Desa Kenotan adalah upaya pencegahan Covid19 dengan sistem Lockdown dan salah satu opsinya adalah dengan penutupan aktifitas pasar watohone yang menjadi paru-paru dan lumbung perekonomian masyarakat Desa Kenotan .

Langkah ini terbilang sangat bagus, 
Sebagai salah satu pencegahan penyebaran virus Covid19. 
Setelah beberapa minggu menikmati dan mengikuti aturan ini, keresahan masyarakat mulai muncul akibat macetnya perekonomian Desa. 

Semakin lama semakin miris nasib takyat. 
Ya, mungkin begitu keadaan dan keresahan masyarakat Desa Kenotan saat ini. 
Bahkan akibat kemacetan perputaran roda ekonomi ini masyarakat secarah gamblang dan berterus terang mengatakan bahwa, masalah ini lebih kejam daripada Covid19. 
Mati bukan karena coroan melainkan kelaparan. 
Disini bisa terlihat jelas bahwa salah satu langkah yang diambil Pemerintah Desa ini tanpa diskusi bersama masyarakat dan opsi atau jalan keluar setelah keputusan penutupan pasar dari pemerintah sendiri ternilai tidak ada sama sekali. 

Banyak langkah yang dibilang gegabah karena tanpa memikirkan jalan keluar. 
Ekonomi bukan lagi macet. 
Melainkan mati. 
(@amsuvallentino) 




Senin, 13 April 2020

             Pos SATGAS Covid19 Alah Bar-bar

Jakarta - Virus Corona saat ini telah menginfeksi lebih dari 100 negara di dunia dan mengakibatkan 6.400 orang meninggal dunia. WHO pun telah menyatakan virus Corona sebagai pandemi.
Artinya, virus Corona telah menyebar ke hampir seluruh dunia dan populasi dunia kemungkinan akan terkena infeksi dari virus ini. Jadi, sebagian dari populasi dunia akan jatuh sakit.
Pada saat ini, banyak negara di dunia seperti Inggris, Amerika Serikat (AS), India, dan China, memberlakukan "lockdown" atau karantina wilayah. Mereka menutup semua akses fasilitas umum, mulai dari restoran, toko, sekolah, mall, dan pusat-pusat keramaian lainnya.

Warga negara pun diharuskan atau setidaknya dituntut keras agar tetap berada di dalam rumah masing-masing. Tujuannya demi menghentikan penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19 yang sekarang telah menjadi pandemi.

Dari beberapa penelitian ilmuwan dunia menyatakan bahwa selain Lockdown upaya pencegahan pandemi ini juga dengan cara #DirumahSaja. Artinya bahwa masyarakat dilarang untuk saling kontak fisik.

Dari hasil penelitian ini terlihat jelas bahwa upaya Lockdown itu seakan sia-sia apabila larangan dan anjuran pemerintah tidak diindahkan.

Seperti faktanya bahwa pada saat ini dibangun pos satgas untuk tiap daerah.
Namun kita tidak pernah tau apa yang dilakukan anggota satgas dibalik pos kerjanya.
Minum mabuk, Ngopi bareng dan masi banyak lagi kegiatan yang berhubungan dengan kontak fisik secarah langsung.

Pos seakan jadi bar.(Tino valent)

Sabtu, 11 April 2020

                "  Cornia sakit CORONA "

      Curahan paling hangat dan kritis anak muda    atas pandemi Covid19 yang semakin merajalela.


Virus Corona atau COVID-19 adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Virus ini masih berhubungan dengan penyebab SARS dan MERS yang sempat merebak beberapa tahun lalu.
Dalam upaya memerangi pandemi Corona, berbagai negara di dunia telah mengambil serangkaian kebijakan guna melindungi negaranya. Sejauh ini, kebijakan paling ekstrem yang diambil adalah lockdown. Kebijakan lockdown berarti mengunci semua akses keluar masuk di negara atau kawasan tersebut guna mencegah penyebaran COVID-19. Masyarakat pun diatur sedemikian rupa agar tidak berkeliaran dan berkerumun di tempat umum.

Upaya yang luar biasa dengan dampak yang juga lebih luar biasa kepada masyarakat.
Rakyat semakin resah dengan tindakan pemerintah tentang Lockdown ini, semakin hari semakin terhindar dari penyakit ini, dan semakin membunuh masyarakat dengan masalah ekonomi yang semakin memburuk.

Dari kasus tersebut,
Beberapa hari lalu saya sangat tergugah atas sebuah tulisan singkat dari seorang anak muda kampung yang menyalurkan dan menyambung keresahan warga atas pandemi ini.

AMA ILHAMRI BIN DAHLAN(ILHAM),buah hati dari Bapak Dahlan Demon Loun dan Ibu Kamaria Swardin .
Pemuda yang saat ini beradah dibangku sekolah MAS KEY LEBU WITIHAMA
Putra PLEDO yang berani menyuarakan suara rakyat melalui hobi menulisnya,yang mampu memberi dan membawa kesan prihatin yang amat mendalam atas penderitaan rakyat.
Bahwa yang menjadi poin utama dari tulisan Ilham adalah solusi Pemerintah yang atas tindakan Lockdown yang hingga saat ini masih dipertanyakan.

Berikut karya Ilham, demikian nama panggilannya yang disalurkan melalui hobi menulisnya :

             "Pikirkan juga kelaparan"

Sinar Menylimuti siang
Menyengat Membara Bagi api
Disela Wabah Memati.

Cornia Yang Kini Menjada,
Dipakasa Di rumahkan Sejenak.
Dibalik Anak Yang Menangis Lantaran Susu Habis.

Perintah Mereka Yang berdasi"Jangan Keluar Ruma".
Sedangkan Cornia Cemas Akan anak yang meneriakan Susu.

Kini Dompetnya Tipis Di Kikis Perjalanan Waktu.
Karena Perintah mereka Tak Keluar. Meski setok Susu Habis,Dan Sedang Ada Loock Dowen di negri Ini.

Renungan Siang Pagi Menjumpa Malam, kian Membisu Membatu Seprti Patung.
Tak Ada Uang Untuk Belikan Susu.
Sedangkan Tempat kerja Pun Terliburkan.

Gejolak Hasrat Dia Memanjat,Di dinding Jina Mlam,Yang Hasilnya Adalah Uang Yang Akan Di Tukarkan susu.

Kalian Hanya Memikirkan keshatan Tapi Tidak Dengan Kelaparan.

Selang Bebrapa Hari Cornia Positif Corona.
Dan Anakanya Pun.

●Ama🍁
●senin,6april20


Kritis,Merdeka dan Ngawur bertanggungjawab.
Demikian watak seorang ILHAM yang dapat kita baca dari hasil goresan tangannya.
Teruslah melangkah meski banyak pengecut yang menjadi pengintai langkahMu. (@amsuvallentino _edd)