Postingan Populer

Minggu, 23 Agustus 2020

Jakarta Vigilante Dan Siti

Jakarta Vigilante.

Hari itu minggu. Hujan semalam yang baru saja redah masih menyisahkan aroma tanah yang lama ditindas aspal jalanan. 
Arvril sudah menikmati kopi paginya sedari subuh. Untuk keenam kalinya ia membakar ujung rokoknya. Dimainkan asap tebal dari bibir gelapnya akibat kecanduannya pada batangan kretek tersebut ke udara. 

Ia tampak aneh. Antara bingung dan gelisah saya tak dapat memastikan itu. 
Arvril... 
Aku menghampirinya sambil menyapa. 
Ia tampak terkejut. 
Ku teguk KopiNya yang hampir menyisahkan ampas. 
Aku dan avril selalu begitu. entah siapa yang menyeduhkan kopi itu kami selalu menikmati bersama dalam secangkir. Kami ngekos bareng di daerah kumuh,belakang perumahan elit pondok indah,Kebayoran.
Aneh banget daerahnya. Depannya perumahan elit, belakangnya daerah kumuh. 
Kita seperti hidup dan tidur diatas sampah kaisar dibalik pagar bata setinggi 3 meter itu. 

Jakarta Vigilante itu sudah merubah hidupku. 
Avril memulai ceritahnya sambil memainkan asap kreteknya ke udara.
Aku mulai bingung. 
Mungkin arvil sedari tadi sedang ngigo karena kebiasaan tidurnya selekas solat subuh. 

Ada apa dengan jakarta Vigilante ? Tanyaku penasaran !. 

Kita telah dibohongi aparat dan kaisar istana negri ini.
Aturan dibuat untuk dilanggar. 
Semua kericuhan dan problem negri ini seolah ada sutradara yang sudah menulis skenarionya. 

Aku makin bingung dengan penjelasannya. 

Kita seolah menghadapi kasus dalam negri yang Sejatihnya itu adalah hasil dari buatan pejabat publik sendiri. 
Di satu sisi sebagai pengalihan isu, 
Sisi lain sebagai upaya untuk mengejar sensasi. 
Benar-benar seperti negri dongeng. 
Avril menghela napas panjang, penuh emosi. 
 
Buku sejarah pejabat mencatat persaingan ketat antar Konglemerat untuk memperkaya diri, dari cara licik hingga langkah hitam dibuatnya hanya untuk menjungkalkan lawannya. 
Tak hanya sampai disitu, kaum Konglemerat berlombah menyewa preman kota yang dianggap paling garang dengan link terbanyak hanya untuk menjaga secarah individu ataupun untuk mejalankan aksi licik untuk melawan pesaingnya. 


Aku baru sadar kalau selama ini kepanikan-kepanikan rakyat adalah buatan pejabat. 
Kita digiring seperti anakan domba,kemana saja sang gembala itu menginginkan tujuan tertentu. 
Lahan kita digusur, 
Hak kita dirampas bahkan sampai pada hak dasar kita diporoti habis-habisan oleh penguasa. 

Benar-benar tak bermoral. 
Aku tak lagi mendengar dan merasakan nilai pancasila dibalik gedung pencakar langit itu. Di gedung bupati dan gubernur. 
Di istana para kaisar negri ini. 
Jangankan merasakan,ingatan Mereka saja sudah sirnah. Apalgi perilakunya. Yang ada dalam hati dan pikiran mereka hanya harta dan kedudukan walau dengan cara memeras rakyat hingga menjual bangsa. 
Pancasila telah dikubur beserta semangat para pendiri bangsa. 

Bagaimana menurut anda? 
Arvil berbalik tanya padaku. 

Ya aku juga demikian. 
Bahwa tujuan bangsa seolah berubah, dari mensejatrakan berubah jadi menyengsarakan. 




Ah,aku Sunggu tak menyangka mendapatkan buku itu .Benar-benar mengguga Nyali. 
Terimahkasi siti. 
Arvil menghabisakan kreteknya dan membuang puntung ke arah tangga. 
Saking kesalnya ia berdoa agar ada pejabat yang lewat agar puntung kreteknya itu menyelinap dibalik saku jas atau rambut mereka agar bisa mengerti tentang emosinya saat ini. 

Sambil tertawa nyinyir aku menyinggung nama siti yang sempat disebutnya tadi. 

Siti adalah perempuan paling istimewa buat arvil.

Beliau adalah guru diluar jam sekolahku, dia yang bisa merubah pikiran dan berhasil menuntuntunku sesuai arah pikiranku kejalan yang benar. 
Dia banyak berbuat hal luar biasa untukku. 
Dari belajar bersama.
membahas banyak hal aneh, mulai dari aturan aneh,mencetuskan teori konyol hingga hal-hal pornografi yang menurutku adalah hal Manusiawi dan sebagai bentuk penghargaan atas sang pencipta. 
Namun siti tetap menganggapku seperti bapa bangsa yang dijuluki sebagai pria flamboyan. 
Ah dasar mindset mesum. 
Otak lu udah dimakan sebelah oleh setan napsu. 
Ahahah... 
Aku selalu tertawa ketika mendengar ucapannya itu. Demikian kata arvil tentang siti sang pujaannya itu. 




Jumat, 17 Juli 2020

BUITENZORG

______________
Aku mendatangimu lewat tulisan ini sebelum malam lengah lebih jauh
Pada diriku, kata-kata seakan masih terasah terengah-engah menyebrangi jantung puisiku, tapi kali ini aku niatkan
Aku hembus tepat dilenganmu, peluk lebih erat agar kau merasa tidak ditinggalkan dan semoga bisa menopang seluruh rindu yang dibuat rubuh oleh sepi

Sudah banyak hari terlewatkan 
Kala kita menghitung keganjilan waktu yang jatuh pada kalender 

Aku mau sekali ini aku belajar menangis tanpa air mata 
Biar tidak membuatmu resah dan ibah
Aku ingin sekali belajar menjadi riang yang ribut dan tak mau diam 
Sehingga kau tak lagi memanggilku linglung
Aku ingin sekali tetap menjadi lemak yang kau keluhkan dan menguras seberapa uangmu untuk sekedar membeli teh pucuk dan es krim corrneto 

Seperti yang aku belajar dari Ibuku
Aku ingin sekedar mencintaimu dengan menghilangkan seluruh gengsi yang bertandang di dadaku
Menyuapimu makan layaknya anak kecil, memakaikan jakat ketubuhmu ketika kau pulang saat datang menengokku
Hal semacam itu bukan suatu berlebihan
Aku hanya ingin mengikuti ajaran yang dicontohkan Ibuku 
Mungkin itu gambaran bagaimana cara rasa sayang bekerja sebenarnya

Sesulit menjelaskan kerumitan yang ada pada kita
Aku selalu menemui Tuhan dalam kepasrahan 
Memikul segala keluh yang merahasiakan diri dari tinta 
Aku sendiri melihat air mataku bekerja sejadi-jadinya sampai pada ketenangan Tuhan taruh ditelapak bantal mengelus pipiku dan membuatku kemudian terlelap

Kita memang  tidak punya kuasa  menebak nasib
Ketakutan-ketakutan bekerja seperti hantu selalu mendiami angan-angan
Seperti  kita melihat antara mimpi atau kenangan yang bergantung membuat pilihan
Namun diatas itu semua,  sepenuhnya ketulusan tetap kita jaga sebagai manusia. Semoga tidak seperti musim dan cuaca 

LDS

Minggu, 05 Juli 2020

Bagaimana Bila?

Bagiaman Bila? 

Oleh:AS


Masih saja kurasa bimbangmu, dan kulihat ragumu!


Bagaimana bila?,

aku adalah engkau.

engkau adalah aku.

aku adalah dia, kami, atau mereka.

dia, kami, atau mereka adalah aku.


Bagaimana bila?,

Burung kehilangan sayapnya, ikan kehilangan airnya, atau harimau tanpa taring.


Bagaimana bila?,

Tetumbuhan tak lagi memberi makan para hewan, tak indah dan wangi lagi bunganya, tak manis lagi buahnya.



Gunung2 dilemparkan, lautan ditumpahkan, tanah dibalikkan, dn langit digulung


Bagaimana bila?,

Yg sedih menjadi senang, senang menjadi sedih, hati menemukan lawan rasanya


Bagaimana bila?,

yg kau tunggu takkan datang, yg kau jemput tak ada ditempatnya, yg kau yakini cuma khayalan, yg kau ragukan rupanya sebuah kenyataan


Bagaimana bila?,

Ku kau tinggalkan

Atau kau kutinggalkan

Cinta menjadi benci

Rindu menjadi jemu


Lantas apa yg akan kau perbuat?

Ragulah akan semua kemapanan

Carilah kepastian pada setiap keraguan

Dan temuilah dirimu


Carilah kebenaran dalam kehidupanmu

Dan janganlah mencari pembenaran


Dan lalu, bagaimana bila?

Kubilang aku mencintaimu untuk yg kesekian kalinya?


Senin, 29 Juni 2020

BUITENZORG

BUITENZORG 
Oleh:AS


Aku mendatangimu secepat ini Sebelum kopiKu mencapai dasar gelasnya, sebelum berpisa dengan Juni yang memiliki segalah keistimewaannya berakir. Mulai Dari Kisah pria flamboyan dengan pancasilanya, B.J Habibie dengan temuan pesawatnya, Soeharto, Joko Widodo sang presiden sekarang Dan Soewardien saudaramu sendiri. Semuanya itu sangat istimewa untuk kita sejarahkan. 

Bahwa setiap napas yang berganti adalah Kisah. 
Begitu juga dengan kita avril, 
Aku Tidak menceritakan Kisah tentang mereka diatas, Bukan juga tentang kemalasanmu yang membudaya. 
Ini adalah Kisah kita dibulan Juni. 
Bulan Tanpa Tanggal 31 dalam Catatan kalender avril. 
Aneh Dan Benar-benar istimewa bukan? 


Kita memulai dari sebuah keganjilan Tanpa sengaja,Dan itu adalah nikmat tersendiri avril. 
Hhhhhh.. 
Kamu pasti akan tertawa ketika kita menceritakan tentang keganjilan ini. 

Dari segalah ketakutan, 
Dari semua kerumitan tentang kita, 
Hingga Pada kekonyolan tentang kita avril, 
Dan semua itu adalah Kisah. 

Avril, kita Sudah cukup banyak menghabiskan waktu untuk bersama, 
Memang Terbilang tak ada yang romantis tentang kita, Bahkan kamu sendiri juga tak mau kulakukan dirimu seperti seorang bayi yang harus ditidurkan dengan lagu Nina bobo,
Dan selalu kujawab bahwa itu adalah pemborosan anggaran. 
Ahhaahhaha.. 
Memang, 
Benar benar ganjil sejarah tentang kita. 


Avril,Aku Sudah membaca suratmu beberapa minggu lalu. 
Tak lain, semua Isinya adalah tentang semua ketakutan Dan kerumitan tentang kita. 

Dengarkan aku baik-baik avril, 
Sejatihnya ketakutan itu ada untuk Mengujih seberapa besar kita kuat dan berani melawan ketakutan itu sendiri. Namun, bukan untuk Menyerah avril. 
Menyerah adalah hadia kepada Kemenangan untuk ketakutan itu sendiri. 
Tetaplah berpegang teguh Pada Kisah kita avril. 

Mungkin aku terlalu yakin dengan Kisah Dr. John Grant, dalam Catatan Buku jacatra secret, Tapi suatu saat pasti akan Aku lakukan untuk tetap menghidupkan Kisah kita dalam Kata bersama. 
Bahwa ketika niat baiknya untuk menyelesaikan kasus besar negri pertiwi, Dia sendiri terpaksa harus menjadi Bagian dalam kasus,bahwa kehadirannya juga jadi masalahkan buat para Penjahat. 
Tapi, Sang simbolog harus menikmati itu, Meskipun harus jadi incaran Dan buronan. 
Aku hingga menulis beberapa kuotas pribadi tentang perumpamaan jembatan Dan Lumpur. 
Bahwa kita pasti akan terjun kedalam Lumpur itu sendiri, Meskipun kita tau bahwa Lumpur itu kotor.Tetapi itu adalah satu-satunya jalan ketika yang lain adalah kebuntuhan. 
Dan Aku akan Siap melakukan itu avril. 


Tentang kita, 
Tentang Semua ketakutan, 
Tentang Semua kerumitan, 
Tetaplah berjalan maju untuk sebuah bahagia avril. 
Berikan aku lebih banyak lagi waktu untuk bersama. 
Kamu tau, Rindu adalah candu buatKu avril.


Tetaplah menjadi avril dengan segalah kemalasan dan kekonyolan yang menjadi Sumber bahagia kita. 
Aneh Memang.!!
Ya seaneh Kisah awal kita hingga sekarang. 

Selamat menikmati fajar pagi terakir dibulan juni sebelum kita harus bertemu lagi tahun depan avril, 
Hangatkan tubuhmu biar kuat, 
Bakar juga lemak-lemakmu dengan Hangat mentari pagi biar makin banyak pakain waktu kecilmu dapat terpakai kembali. 


Sebenarnya tak sampai disini. 
Aku ingin menulis lebih banyak lagi Kisah kita, Yang Tidak hanya sebatas pada majas yang kataMu adalah seperti lagu lagu Nina Bobo,
Tetaplah menjadi wanita adonara dengan percikan wua wayak dari ekot yang terpaksa harus kau muntahkan tepat diwajahku. 
Muntahan petua atas segalah khifalku,
Muntahan rintih bersamaan dengan setumpuk ketakutan atas kerumitan tentang kita untuk diselesaikan dengan akir bahagia tanpa ada Kata pisah Dan irih Antara wua,apu Dan Malu dalam rumahnya ekot.||[AS]

Rabu, 24 Juni 2020

RENJANA

RENJANA

Ketika aku datang kepadamu
Berikanlah aku sepotong puisi milik Sapardi
"Yang Fana Itu Waktu, Kita Abadi"

____
Seribu sembilan puluh hari berlalu
Sutra hitam masih saja melilit dileher lelaki itu
Kendati kematian mendirikan tembok tanpa meninggalkan surat izin terlebih dahulu 
Dari situlah awal kebencian akan kehilangan bermula

Setelah Ibu kandungnya hilang memilih pulang lebih awal dengan cara tragis
Dilahap jurang bergigi batu pada sebuah sore yang licin, hujan lebat ketika dalam perjalanan pulang berkebun
Kini lelaki itu kehilangan lagi seorang kekasih putih yang diagung-agungkan, yang baru saja ditimpal kecelakaan maut dengan kondisi tubuh mengenaskan ditengah-tengah sebuah kota 
Serupa laknat dan kutukan
Lelaki itu, lalu meminum puisi sekali lagi
Dan kembali kemuasal sunyi

Dari lubang hampa
Dia menukik air mata sejadi-jadinya 
Membanting dada sesak untuk entah yang hilang definisi 
Malam itu habis magrib, disudut sebuah toilet rumah sakit 
Lelaki itu remuk tak berampas
Namun tak mau tunjukan kepermukaan dunia, bahwa dia tak mungkin serapuh itu

Setelah tahlilan malam pertama seusai penguburan kekasihnya
Dia berjalan sendiri mengunjungi kuburan, menggenggam sebuah kertas dan pensil lalu menuliskan 

_Aku datang, lihatlah aku sebagai manusia. Aku akui, aku lemah tanpa sosok perempuan
Berikan aku sepotong puisi milik Sapardi 
"Yang Fana Itu Waktu, Kita Abadi"_

Dia menaruhnya diatas pusara, Kekasihnya
Lalu, berjalan pulang, tanpa menoleh lagi kebelakang

___Lamawuran De Sakinah
Banten, 30 April 2020

Minggu, 21 Juni 2020

SEDON ATA RAYA,KEBAREK ADONARA

PEREMPUAN ADONARA. (LDS) 

Elokmu juwita membias pada jantung kehidupan
Jauh dari bisik sumbang penyakit-penyakit kota
Lebih merdu nyanyianmu menimang masa

Aku yang memilih menulis ini
Menjadi saksi peradaban
Bahwa, sejatinya kita adalah mata rantai
Bukan sepenggal buah bibir klasik yang hanya semata didongengkan

Perempuan Adonara
Binar matamu kilatan pedang
Menghunus dijejak sendi-sendi kehidupan

Senyum yang tak bertulang 
Menakluk larik puisi dihati penyair dalam-dalam

Tanganmu lebih lembut dari tangan mesin pabrik 
Kakimu tegak adalah tiang penyangga langit yang kokoh
Menggulung terpal nasip yang kian berdebu

Disetiap adamu, Kami hidup mengais syukur yang tak berkesudahan

Perempuan Adonara 
Memanggang hingga kenyang dalam irama ketukan batu
bertalu
Diatas bara 3 mata tungku
Kantongi pangan dikosongnya perut

Ciptakan warna-warni rajutan helai benang yang kau tenun
Sematkan sandang diatas raga yang telanjang

Berjalan junjung matahari, memetik
rupiah dalam petak ladang

Perempuan Adonara
Masih dengan agungmu
Aroma lipstik alami (sirih pinang) pada bibir kakuh meronah keujung lidah
Yang kau muncratkan percikannya adalah
ayat-ayat suci yang kau bisik

Perempuan Adonara
Mengejamu adalah
perkara kekaguman
Teruslah alirkan darah kesejukan
Tetaplah jadi rumah idaman
Tempat kami berpulang

Witihama, 20 Juni 2017

           

Kamis, 18 Juni 2020

Bunga Juni Yang Lalu

Bunga Juni yang Lalu 
Oleh:Soewradin Pledo's 

Katakan padaku bunga bawasannya sejuta episode perjalan kita adalah waktu temunya siang dan malam, meski sekilas tapi ranjang tempat kau telanjang hiasi langit bukuku yang nyinyalir kosong tanpa mu maksutku telanjang cinta ketika kau bukakan hati telanjang dan menawarkanku duduk diantara barisan lelaki yang menati cecapi kopi buatan mu

Meski kini layu juni yang lalu tapi bening biru matamu itu yang ketika derasnya kau hujaniku di sebua pertemuan, mengajariku hujan yang rintiknya pedih,
Kini juni ku sendiri 
Tanpa tawa ketiwi dengan mu
 seingatku malam yang dulu adalah ucapan selamat tidur terhangat dan kadang mimpi ku dapat 
Setengah siang dan malam adalah kabar bahwasanya saling meprlihatkan pundaknya untuk kenyamanan

Bunga 
Ketauhilah surga bumi dan neraka itu ketika kau eratkan tanganku dan tidur di pundaku sembari kau bermanja
Dan nerakanya adalah aku ketika egois menduakanmu dan tak mau meperbaikinya meski itu sekilas 

Bunga Juni yang layu
Kabari aku jika kau layu
Dan ku belaimu hingga kau tidur dalam malamku seperti dulu

☕🍁
Setengah Masa lalu adalah cerita bagi setiap manusia yang pandai berayu

Salam Dari Casperr14 juni20

Kamis, 11 Juni 2020

Siti_

Siti_


Siti Kekasihku,

Kenapa harus kau bangunkan aku sepagi ini siti. 

Tapi tak apalah, 

Sebagai seorang lelaki aku harus sepagi mungkin dan mendahului ayam untuk mengais rejeki dari kardus kardus samping rumah pejabat itu. 


Selekas dari tidurku langsung ku sehruputi kopi buatanmu seperti biasanya dibalik senyumMu. 

Aku terhenti ditengah tegukan pertamaku. 

Siti, 

Mengapa sepahit ini kopi buatanmu. 

Tak seperti kopi buatanmu kemarin. 


"Anggap saja itu ibarat kisah kita saat ini ama, 

Kita sedang dalam dilema dan penuh dengan serba salah untuk kisah kita."Demikian jawab siti. 


Kenapa siti? 

Ada apa? 


Allahku dan Tuhanmu berbeda. 

Aku tak yakin kita akan direstui ama. 

Ayah dan ibuku begitu fanatik dengan keyakinannya.

Lagi pula kehormatan yang paling utama adalah orangtua. 

Aku harus mengikuti mereka. 

Kita harus mengakhiri ini Ama. 

Demikian jawab Siti.!!!


Kuhabiskan kopiku dalam sekali teguk. 

Ku berlari dari peraduan menujuh puncak, 

Dengan lantang Kuteriakan pada seluruh ciptaan Sang Kuasa, 

"Dunia Tak Adil"

Mengapa aku harus merasakan ini secepat lesatan meteor. 


Aku baru tau, 

Ternyata keyakinan bisa jadi penghalang kebahagiaan. 

Lalu apa? 

Katanya Allahmu dan Allahku telah menjanjikan kebahagiaan untuk kita dikemudian hari. 

Dan ini yang namanya bahagia !? 

Ah. 

Tuhan tak adil. 



Siti Kekasihku. 

Aku sadar, 

Sebaiknya kau nikah dengan orang yang lebih bisa beruntung dan rupawan. 

Ku tau siti,. 

Latar belakang kita berbeda. 

Aku hanyalah sebatang kara yang dilahirkan dan hidup karena kesalahan semesta. 

Aku tak punya apa-apa untuk membeli bedak dan lipstik untukmu dikemudian hari. 


Sementara kamu, 

Kamu punya segalahnya siti. 

Uang ada, 

Keluarga lengkap, 

Tak ada bedanya dengan Konghlamerat. 

Hanya saja kamu beda jumlah dan suvvenir yang mengisih ruang tamu keluargamu, siti. 



Siti kekasihku, 

Aku mengijinkanMu pergi. 

Tapi bukan karena kita bedah keyakinan. 

Aku mengiklaskanmu pergi hanya karena aku takut kau dan anak kita akan kelaparan nanti, hanya karena aku tak mampu membeli beras dan sayuran yang sehat untukmu berdua siti. 


Tapi ingat siti. 

Aku mencintaimu tidak main main siti. 

Aku merasakan kehidupan yang lebih baik bersamamu siti. 

Aku kuat bersamamu siti. 


Sekarang, 

Pergilah. 

Pergilah sejauh yang kau mampu, 

Tapi cintaku dan hidupku akan tetap ada untukmu siti. 


Pergilah, 

Aku mencintaimu siti.[AS] 


                  



Jumat, 05 Juni 2020

Kau mengajariku Beretika?



Tidak perlu mengajariku bagaimana beretika dengan baik, jika memanggilku saja kau berteriak. Jangan ajari aku etika, jika di depanku kau melanggar aturan. Lalu kau bilang, "Perhatikan apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan." Lalu, apakah kau akan menerima jika orang gila memberimu arahan. Tentu kau akan berpikir lebih dulu, bukan? Begitulah kira-kira, penasehat yang tak pandai melihat kedalam dirinya. 

Aku tidak bilang bahwa kau gila, tentu kau salah besar jika menganggap demikian. Yang ingin kukatakan adalah keteladanan jauh lebih penting. 

Kau bilang jangan kasar, tapi kau sendiri memberitahuku dengan mata memerah. Kau bilang hormati aku, tapi kau lewat di depanku dan hampir menginjakku. Lalu kau bilang, jangan langgar aturanku atau kuberi sanksi yang tegas. Tapi kau sendiri lupa pada aturanya. Kau langgar semaumu. 

Maka mari perhatikan sejenak seorang bayi mungil. Ia peniru yang handal. Kau boleh melarangnya, mengatakan tidak pada semua hal. Apakah dia peduli? Tentu dia peduli jika kamu pun tidak melakukanya. Sebaliknya perhatikan, anak-anak yang menjadi pemarah, agresif dan suka membantah. Kau bilang dia anak yang nakal. Tidak, sesungguhnya dia tidak nakal. Coba perhatikan sikap ayahnya ketika marah, anak-anak mewarisi itu.

Jangan ajari aku etika. Jika kaupun tidak mengerti bagaimana beretika. Berilah teladan. Dengan begitu, tanpa kau ajari aku pasti beretika.[as]
       photos_by:lamawuran de sakinah_fb 

Rabu, 03 Juni 2020

Boca Tanpa Alas Kaki

Aneka Tanya terhenti depan moncong senjata, 
Laras panjang terarah tepat ulu hati. 
Ketidakpercayaan menjadi tuba dalam kepala,Bercampur kusumat mengalir deras dalam nadi. 
Gigil Pada kaki tak mampu disembunyikan. 
Jengah dalam hati tak jua tersembukan. 
Pada siapa rasa gamang harus dialamatkan. 
Saat sejumput harapan terbentur kesombongan. 
Mesin menikam aspirasi hingga tak bernyawa. 
Kebohongan kongkalikong dibalik tirai demokrasi. 
Suara tak puas terbungkus karung beras. 
Jadi santapan kutu berwaja culas. 
Makluk pengerat bersinergi dengan pembuat anggaran. 
Antar birokrat bersekongkol Demi tercapainya sebuah kebijakan bullshit. 
Tak perna peduli Meski kebijakan mirip Ide orang gila. 
Dipaksa tetap berlaku Entah untuk siapa. 

Biarkan kami Terus bermain dengan tanah Tanpa alas kaki hanya untuk mencari sebuah kebijakan yang Mungkin masi tersembunyi. 
Teruslah membuat Texans 
Dan kami Siap menerima bencana.

Minggu, 31 Mei 2020

Nasib Tak Senasib

Jangan membahas luka di depanku, 
aku terlahir dari kesalahan semesta dengan sejuta sayatan luka di sekujur tubuh. Sudah fasih bibir kering ini melantunkan elegi, 
sang pencipta kerlip bintang pun tanpa menoleh tahu itu suaraku. 

Jika kaumemilih terluka karena kebodohanmu, akupun sama denganmu, karena kebodohanku aku memilih bahagia.
 Katamu hidup pilihan, kan? 
Aku memilih bahagia karena bosan bernego dengan takdir. 

Jika kebahagiaanku melukaimu atau mereka, itu bukan salahku. Itu kesalahan kalian yang gagal memanagement hidup, gagal memilih langkah. Tak usah mencari kambing hitam atas kebodohanmu atau mencari jamaah untuk turut serta menikmati desahan lukamu. 

Aku egois? 
Terserah yang menilai, yang pasti, meskipun tubuhku hanya sekumpulan nanah, aku tak memercikannya pada setiap orang yang kutemui di jalan. Ataupun menjual air mata demi sekeranjang perhatian, apalagi belas kasihan. 

Ya, sebagai seorang laki-laki 
aku ta kpandai menjahit baju, 
namun untuk sekadar menutupi tubuh nanah ini aku mampu membebat kain.

Busuk ....
Ya, aku memang busuk! Sebab itu aku menghipnotis dengan senyuman, setidaknya ibuku berkata senyumku manis. Meskipun kutahu dia berbohong. 

Untukmu di pojok beranda manapun, yang terluka karenaku. Aku tetap meminta maaf, walaupun aku tak mempunyai kewajiban untuk itu.(edo

Sabtu, 30 Mei 2020

     Pos SATGAS Covid19 Jadi Alih Fungsi Alah Bar

Jakarta -  Virus Corona saat ini telah menginfeksi lebih dari 100 negara di dunia dan mengakibatkan 6.400 orang meninggal dunia. WHO pun telah menyatakan virus Corona sebagai pandemi.
Artinya, virus Corona telah menyebar ke hampir seluruh dunia dan populasi dunia kemungkinan akan terkena infeksi dari virus ini. Jadi, sebagian dari populasi dunia akan jatuh sakit.
Pada saat ini, banyak negara di dunia seperti Inggris, Amerika Serikat (AS), India, dan China, memberlakukan "lockdown" atau karantina wilayah. Mereka menutup semua akses fasilitas umum, mulai dari restoran, toko, sekolah, mall, dan pusat-pusat keramaian lainnya.


Mesin Keruk Untuk Tuan Kemaruk

 Mesin Keruk Untuk Tuan kemaruk
Amsu ValLentino.  

di bumi subur makmur
tumbuh ladang tempur
buncah sesama darah

sedang mesin keruk
suapi para tuan kemaruk
mabuk di atas tunggangan
angkuhnya kekuasaan
lalu gaya berwisata
di pesta-pesta kota
ke mancanegara

para tuan bersembunyi 
kampung bising desing
dan kering kerontang

hingga tunas-tunas bangun
berlari hunuskan duri runcing
menggedor pinta keadilan
atas panjang kemiskinan
atas hampar kehilangan
atas gelimpang kematian
tak tampak dalam hitungan
kalkulator belasungkawa
di alam pikiran merdeka

maka jangan kokang senjata
ketika para tunas bertanya
hak-hak jiwa raganya

tunas itu rimbun harum bangsa
berwarna bunga berbeda-beda
maka jangan kokang senjata
peluk dan cium saja(as)

Kamis, 21 Mei 2020

Kota Misteri. (Surat Balasan "30 Maret ,Sebelum April Besok".)

Sebelum pagi tiba, 
Sebelum bulan bersama cahaya hilang dan pergi dari peraduannya,Kutitipkan sepucuk surat kecilku ini untukMu. 
Maaf kalau suratmu akir maret lalu baru kubalas hari ini. 
Ku tau ini pasti tidak membuatMu kenyang pagi ini. 
Sebab kita tidak seperti tuan dan puan yang bisa menjual janji mereka untuk bisa mendapatkan nasi bahkan dengan lauk yang paling enak.
Surat ini sengaja Kutitipkan padamu sePagi mungkin agar kau bisa tersenyum bersama mentari baru untuk semangat dihari ini. 

Avrill.
Pagi ini ku yakin kau tak mendengar merdu suara ayam dan kicaun burung yang saling berbalasan. 
Ku tau bangunmu pasti sudah siang. 
Matahari pasti sudah setengah dari posisi tengah harinya. 
Bukanka begitu avrill. 
Hhhh.. 
Dasar manusia pemalas. 
Mandi saja jarang bagaimana mau menerapkan hidup sehat. 

Dekilmu selalu jadi ancaman polusi Ibukota. 
Demikian senjata yang selalu kupakai untuk melawan malasmu.Tapi sama saja, kataMu hidup itu pilihan. Memilih untuk tidak mandi dan memelihara keringat juga sebuah pilihan. 
Hhhhhhhh.... 
Ah dasar, manusia otak setengah. 
Bela diri yang berlebihan. 

Avrill. 
Kamu ingat kesepakatan kita kemarin? 
satu dari beberapa cetusan gila yang sempat kita perdebatkan panjang dikala siang kemarin dengan matahari yang hampir masuk membakar tulang. 
Bahwa MERDEKA bukan hanya Bebas dari Penjaja. Merdeka adalah bebas dari tekanan & beban. Lihat anak anak kecil yang bermain Asyik, mangatur batu, bermain tana liat, mencoret dinding, berlari dan bermain sepeda seharian.. mereka menikmati kemerdekaan tanpa di kejar KPK

Iya, merdeka. 
Begitu juga denganku. 
Aku ingin merdeka, bebas dari tekanan bersamaMu. 
Aku ingin merdeka bersamaMu. 

Avrill. 
Kau pernah bilang padaku bahwa selalu ada kemungkinan unik setiap peristiwa duniawi, Disitu kau kembali menyederhanakan menjadi lebih ringan untuk ku cernah bahwa "tidak ada yang tidak mungkin". 
Aku tau itu, 
Aku paham, bahkan sangat mengerti tentang itu avrill. 
Apakah kamu tau jawaban atas cetusan gilamu itu?  
Bersama denganMu. 
Itu adalah satu jawaban dari seribu kemungkinan yang saat ini jadi nyata avrill. 

Kau ingat kata Grant kepada Angelina, 
Bahwa kota ibu tiri ini terlalu banyak Menyimpan misteri aneh. 
Terlalu banyak rahasia yang belum dipecahkan. 
Dan kota itu menjadi tempat Dimana segalah kemungkinan terjadi. 
Bahwa kita dipertemukan, diperkenalkan dan semakin mengenal. 

Avrill, 
Aku tau iman kita berbeda. 
Tapi tidak ada yang tidak mungkin untuk sebuah kemerdekaan dan sebuah kebahagiaan bersama. 

Sebelum mengakiri suratku,
Aku hanya memberitahu padamu bahwa salah satu kemungkinan yang saat ini aku inginkan adalah bahwa setelah merdeka nanti aku ingin mengajakmu.
Tanpa massa, 
Tanpa atribut demonstran .
Tak butuh suasana riuh, 
Aku hanya butuh hening ketika merdeka yang saat ini kita rasakan kelak akan kita proklamirkan bersama dengan iringan lagu khas kita lagu kesukaan soe hok gie "Dona-Dona".


Arvill
Mei2020.

Rabu, 20 Mei 2020

Puisi-ku merintih
Serupa maling yang mengaling di antara
Huruf-huruf khilaf sehabis dicambuk berulang kali

Puisi-ku lahir serupa awamatra
Tetapi di peradaban-nya disangka kafir
Bahkan berjalan seperti anak durhaka
Diterka lirik dan teriakan amonia

Puisi-ku yang kebingungan menerjemahkan
Bahasanya sendiri
Hampir mati dimakan otak-otak belukar 
Hingga puisi-ku bingung haruskah tertawa atau menangis

Tentang roman, elegi;
Tentang damai, benci;
Tentang iri, negeri;
Semua isi puisi-ku dibenarkan sekejap.

Coba telanjang dan menulis di 
Hadapan-ku.
Maka kau layak serupa puisi-ku 
Sehabis berzina dengan kaum ber-otak.

Belum cukup puan dan tuan!
Ingin kutancapkan kata berbusa ini di dada-mu
"Buka mata! Tutup telinga dan mulut-mu 
Sehabis kau kebiri anak-anakku" 

Isi kepala puan dan tuan
Tak setimpal dengan ujung pena-ku
Jika puan dan tuan serupa seisi padi yang merunduk
Maka pena-ku lebih dari itu.(as) 

Amsu_

Jumat, 15 Mei 2020

Jempol Jadi Ajang Popularitas .

Hidup karena Jempol
Dahulu, dimasa Imperium Romawi. Kesenangan para konglomerat dan bangsawan menonton pertandingan gladiator. Sebuah tontonan yang mempertaruhkan nyawa manusia. Nasib para gladiator yang bertarung ditentukan oleh pertarungan. Kalau tidak membunuh, ya terbunuh. Tidak ada aturan baku, gladiator boleh menggunakan senjata apa saja. Bila salahsatu gladiator tersungkur dan masih hidup. Nasibnya ditentukan oleh jempol sang bangsawan (senat, konsul atau preator). Jempol ke atas, berarti hidup dan ke bawah artinya mati. 

Entah ada korelasinya dengan dunia digital, Wa bil khusus sosmed. Jempol menjadi penanda popularitas sebuah status tulisan di beranda sosmed. Jempol ke atas untuk -suka- terhadap status. Untuk beberapa kanal seperti Twitter dan youtube, menyediakan jempol terbalik. Dalam beberapa status, saya mengamati seakan popularitas like adalah hidupnya. Buatlah petisi untuk tembus like sebanyak-banyaknya. 200,500, hingga 1000. 

Dalam beberapa kesempatan, saya berkata pada teman. Menulislah status di beranda sesuai fashionmu. Tak usah pedulikan orang like atau tidak ada sama sekali, selama tulisan kita memang memiliki bobot dan mencerahkan. Dengan orang membaca apa yang kita tuliskan sudah cukup. Tidak mesti ikut arus memancing perdebatan berujung pertengkaran. Gimana kalau itu fashion mereka? Mau gimana lagi. Beri jempol terbalik. 

Di sudut berbeda. Seorang kawan sibuk dengan jempolnya. Berjam-jam waktu dihabiskan untuk memuaskan ambisi menang, melalui game. Jempol menari-nari hingga larut malam hingga banyak waktu terbuang demi kepuasan semu. Di pojok lain, beberapa kawan berkelahi dengan jempolnya, mengatur strategi bermain online, saat diajak bicara malah tidak nyambung. Tak tahunya mereka lagi mengumpat kesalahan jempolnya memenangkan pertarungan game. Mereka berkumpul, saling berbicara tapi jauh dari pembicaraan. Jempol mengisi kehidupan, dan mungkin itulah makna hidup mereka. 

Aku juga demikian, kuhadapkan jempolku pada gawai dan menarikan pesan ini. Tapi hidup tak akan kuserahkan kepada keputusan jempol semata.(as) 

Rabu, 13 Mei 2020

TEROESIR.

Bisikan mereka yg Dibuang

Kami adalah anak anak yg ditinggalkan 
Entah kepada siapa kami boleh memanggil "ibu"
Karena mereka yg datang menghampiri
Tidak membawa kasih sayang ibu kepada anak kandungnya
Mereka datang menatap dengan iba 
Memberi atas dasar kasihan
Bukan rindu dan cinta naluri ibu kandung

Hari berlalu bulan pun pergi
Seiring teriakan cela menghias hari kami
Anak anak yg ditelantarkan ibu
Dibuang dalam kardus berteman dingin
Diendus anjing anjing lapar dan tikus tikus selokan
Katanya kami anak haram dan terasuki setan
Tak ada satu orang dewasa pun
Yg mau dipanggil orang tua atas kami
Diantaranya memicingkan mata
"Pergi! Kau bikin sial untuk kami"
Itu kata yg keluar dari mata 
yg mencela  kami yg  terbuang 

Tahukah kalian setiap malam kami berdoa
Kepada siapa yg kalian sebut Tuhan
Agar suatu hari ada orang tua yg datang
Menatap kami dengan senyum manis tersimpul.. kemudian merangkul.. memeluk kami
Merasakan hangatnya pelukan kasih
Dari orang dewasa kepada anaknya
Dirangkul, diusap kepala kami dan ditepuk punggung kami
Ketika kesal dan tak tahan untuk menangis

Sungguh.. bukan kami yg meminta terlahir seperti ini
Bukan kami yg memilih untuk hidup seperti ini
Kami hanya menerima dengan bertanya
Apa salah dan dosa kami
Sampai mereka yg lahirkan kami 
Dengan hati yg dingin tinggalkan kami
Disaat kami belum tahu
Bagaimana cara untuk berjalan
Bagaimana cara berdiri dengan benar
Bagaimana cara menyuap nasi dengan tepat
Jangan pandang kami dengan jijik 
Seolah kami adalah manusia hina
Jangan pandang kami sebagai beban
Karena sungguh kami dapat saling jaga
Walau kalian tidak perdulikan kami

Kami pun ingin berjalan di atas bumi ini
Dengan penuh kehormatan
Menegakkan kepala layaknya anak anak lain yg penuh keriangan 
berjalan menggandeng tangan orang tuanya sambil melompat lompat kecil
Kami hanya ingin diakui keberadaan kami
Sebagai manusia.. utuh..
Bukan pembawa sial..
Bukan aib dunia..
Manusiakan kami.(as) 

Bagaimana Bila

 BAGAIMANA BILA 


Masih saja kurasa bimbangmu, dan kulihat ragumu!


Bagaimana bila?,

aku adalah engkau.

engkau adalah aku.

aku adalah dia, kami, atau mereka.

dia, kami, atau mereka adalah aku.

Bagaimana bila?,

Burung kehilangan sayapnya, ikan kehilangan airnya, atau harimau tanpa taring.

Bagaimana bila?,

Tetumbuhan tak lgi memberi makan para hewan, tak indah dan wangi lgi bunganya, tak manis lgi buahnya.

Gunung2 dilemparkan, lautan ditumpahkan, tanah dibalikkan, dn langit digulung

Bagaimana bila?,

Yg sedih menjadi senang, senang menjadi sedih, hati menemukan lawan rasanya

Bagaimana bila?,

yg kau tunggu takkan datang, yg kau jemput tak ada ditempatnya, yg kau yakini cuma khayalan, yg kau ragukan rupanya sebuah kenyataan

Bagaimana bila?,

Ku kau tinggalkan

Atau kau kutinggalkan

Cinta menjadi benci

Rindu menjadi jemu


Lantas apa yg akan kau perbuat?

Ragulah akan semua kemapanan

Carilah kepastian pada setiap keraguan

Dan temuilah dirimu

Carilah kebenaran dalam kehidupanmu

Dan janganlah mencari pembenaran


Dan lalu, bagaimana bila?

Kubilang aku mencintaimu untuk yg kesekian kalinya?(as) 

Kamis, 07 Mei 2020

Adil membayangakn Indonesia tanpa Omnibus Law

Tino-valent.blogspot.com– Mari berpikir adil dengan membayangkan bagaimana jika Omnibus Law benar-benar ditiadakan? Hm, kira-kira apa yang akan terjadi?


Sepertinya bukan hal yang berlebihan jika saya menganggap dunia aktivis kita saat ini adalah soal: “Tolak, tolak, dan tolak!”

Dua aksi yang terjadi di Yogyakarta (Aksi Aksi Gejayan Memanggil Lagi) dan Surabaya (Aliansi Gerakan Tolak Omnibus Law (GETOL)) jadi bukti. Keduanya mengusung tuntutan yang serupa, yakni TOLAK Omnibus Law.


Saya memahami bahwa kedua aksi ini didasarkan pada nilai luhur atas kesejahteraan pekerja. Dan tentu saja mahasiswa juga buruh perlu menunjukkan suara mereka atas peraturan yang nantinya akan berdampak sangat besar dalam kehidupan mereka.


Namun, dari apa yang saya pahami, sungguh tidak bijak jika kita langsung melabeli keseluruhan Omnibus Law sebagai pangkal musibah—sebuah aturan yang hanya akan menghadirkan malapetaka saja.

Layaknya sebuah ide yang bisa disanggah dan diuji. Tulisan ini bermaksud untuk menguji ide Omnibus Law, namun dengan logika yang terbalik.


Kalau para “Social Justice Warriors” (SJW’s) telah menyampaikan banyak catatan kritis tentang Omnibus Law. Saya justru akan mengujinya dengan eksperimen: bagaimana jika Omnibus Law benar-benar ditiadakan? Apa yang akan terjadi?

Tanpa Omnibus Law kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi bakal turun

Suka atau tidak suka, trendpertumbuhan ekonomi kita mengalami perlambatan. Periode pertama pemerintahan Jokowi, ekonomi hanya tumbuh di kisaran 5 persen.

Mengapa pertumbuhan ekonomi itu penting?

Mudahnya begini. Jika kamu punya duit Rp1000 dan kemudian setelah bekerja—entah jadi pengusaha atau pegawai—dapat duit Rp500, berarti ekonomi kamu bertumbuh sebanyak 50%. Uang yang didapatkan dari pertumbuhan ini tentu saja bisa menjadi tambahan untuk membiayai kebutuhan pokok kayak sandang, pangan, papan, pacar, dan party. Eh.

Sekarang bayangkan kegiatan ekonomi yang kecil itu dalam skala negara. Tentu saja lebih kompleks, namun prinsipnya sama.

Begini misalnya. Negara butuh investasi guna membuka lapangan pekerjaan dan menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat.

Selain kebutuhan dalam negeri, barang-barang yang diproduksi ini juga bisa dijual ke negara lain (ekspor) –> masyarakat butuh pekerjaan agar dapat berkonsumsi dan membayar pajak –> pemerintah membutuhkan dana dari pajak untuk membangun jembatan, jalan, menjaga pertahanan negara, dan memberikan pelayanan publik (public service).


Investasikonsumsipengeluaranpemerintah, dan ekspor. Empat kata kunci ini menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi keempatnya, maka semakin tinggi pertumbuhan suatu negara.

Nah, pertumbuhan ekonomi Indonesia berhenti di kisaran 5 persen. Masalahnya, Indonesia membutuhkan angka 6 sampai 6,5 persen agar memenuhi kebutuhan seluruh angkatan kerjanya. Di sisi lain, terdapat 2-3 juta orang yang masuk ke pasar tenaga kerja. Jika angka pertumbuhan hanya 5 persen, artinya Indonesia sedang menabung pengangguran.

Masalah lain adalah, trendpertumbuhan kita sedang turun. Artinya jumlah investasi juga sedang menurun. Jika investasi menurun maka lapangan pekerjaan sedang menyempit. Awal bulan ini saja Indosat baru saja mem-PHK 677 karyawannya.

Investasi yang mengecil artinya lapangan kerja menyempit –> masyarakat jadi nggak bekerja dan nggak punya uang, negara ikut nggak punya uang karena pendapatan masyarakat dari pajak berkurang –> masyarakat dan negara pada berhemat –> penurunan angka konsumsi bikin pertumbuhan ekonomi semakin menurun.

Ya ya ya, emang nggak ada cara lain selain menghamba pada investor?

Ada. Cuma masalahnya itu juga sudah dilakukan.

Karena pengeluaran pemerintah juga menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Kementerian PUPR menerima dana yang cukup banyak selama kabinet Jokowi jilid-1. Membangun jalan tol, bandara, pelabuhan, jembatan, dan infrastruktur lainnya membuka tenaga kerja.

Orang-orang yang kerja ini pasti butuh makan, sehingga memunculkan usaha di bidang kuliner, terbuka lagi lapangan kerja. Pengusaha kuliner tadi dapat beras, cabai, minyak, garam, gula, dari mana? Dari petani dan industri pangan tentunya. Kelanjutan cerita ini dapat ditemui di buku pengantar ekonomi terdekat.


Intinya, pengeluaran pemerintah dapat membuat roda ekonomi secara keseluruhan berputar.

Masyarakat juga masih bisa membeli kebutuhan hidupnya seperti makan, minum, dan ngopi cantik di café fancy. Artinya daya beli masyarakat secara keseluruhan tidak tergerus dan konsumsi tetap tinggi (inflasi di bawah 4 persen).

Meskipun pengeluaran pemerintah tinggi dan inflasi terkontrol, nyatanya pertumbuhan ekonomi kita tetap macet di 5 persen. Terus mau gimana lagi kalau bukan dengan meningkatkan investasi dan ekspor melalui Omnibus Law?

Tanpa Omnibus Law lapangan kerja berisiko makin turun

Banyak yang menganggap bahwa membuka investasi dan lapangan pekerjaan tidak ada hubungannya, salah satu orang yang berpikir demikian adalah Dhandy Dwi Laksono.

Dalam laman akun twitternya, Dhandy membagikan sebuah slide yang menolak kaitan antara investasi dengan lapangan kerja. Dengan mengilustrasikan apa yang terjadi selama tahun 2010 hingga 2016 yang mana pertumbuhan investasi cenderung meningkat sementara serapan tenaga kerja tidak.

Apa yang dibilang Dhandy benar, namun tidak sepenuhnya. Ada beberapa alasan kenapa pertumbuhan investasi tidak menyerap tenaga kerja di tahun-tahun tersebut.

Pertama, investasi meningkat tiap tahunnya, akan tetapi terjadi pula inflasi atas harga tenaga kerja. Sadar nggak kalau upah minimum setiap tahun naik di banyak daerah?

Ambil saja contoh Surabaya. Tahun 2010, UMK Surabaya tercatat Rp1.000.000. Tahun 2016, naik 300 persen jadi Rp3.000.000. Artinya, investasi Rp1 trilliun di 2010, tentu berbeda dengan Rp1 trilliun di 2016


  • 0
    Shares

MOJOK.CO – Mari berpikir adil dengan membayangkan bagaimana jika Omnibus Law benar-benar ditiadakan? Hm, kira-kira apa yang akan terjadi?

Sepertinya bukan hal yang berlebihan jika saya menganggap dunia aktivis kita saat ini adalah soal: “Tolak, tolak, dan tolak!”

Dua aksi yang terjadi di Yogyakarta (Aksi Aksi Gejayan Memanggil Lagi) dan Surabaya (Aliansi Gerakan Tolak Omnibus Law (GETOL)) jadi bukti. Keduanya mengusung tuntutan yang serupa, yakni TOLAK Omnibus Law.

Saya memahami bahwa kedua aksi ini didasarkan pada nilai luhur atas kesejahteraan pekerja. Dan tentu saja mahasiswa juga buruh perlu menunjukkan suara mereka atas peraturan yang nantinya akan berdampak sangat besar dalam kehidupan mereka.

Namun, dari apa yang saya pahami, sungguh tidak bijak jika kita langsung melabeli keseluruhan Omnibus Law sebagai pangkal musibah—sebuah aturan yang hanya akan menghadirkan malapetaka saja.

Layaknya sebuah ide yang bisa disanggah dan diuji. Tulisan ini bermaksud untuk menguji ide Omnibus Law, namun dengan logika yang terbalik.

Kalau para “Social Justice Warriors” (SJW’s) telah menyampaikan banyak catatan kritis tentang Omnibus Law. Saya justru akan mengujinya dengan eksperimen: bagaimana jika Omnibus Law benar-benar ditiadakan? Apa yang akan terjadi?

Tanpa Omnibus Law kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi bakal turun

Suka atau tidak suka, trendpertumbuhan ekonomi kita mengalami perlambatan. Periode pertama pemerintahan Jokowi, ekonomi hanya tumbuh di kisaran 5 persen.

Mengapa pertumbuhan ekonomi itu penting?

Mudahnya begini. Jika kamu punya duit Rp1000 dan kemudian setelah bekerja—entah jadi pengusaha atau pegawai—dapat duit Rp500, berarti ekonomi kamu bertumbuh sebanyak 50%. Uang yang didapatkan dari pertumbuhan ini tentu saja bisa menjadi tambahan untuk membiayai kebutuhan pokok kayak sandang, pangan, papan, pacar, dan party. Eh.

Sekarang bayangkan kegiatan ekonomi yang kecil itu dalam skala negara. Tentu saja lebih kompleks, namun prinsipnya sama.

Begini misalnya. Negara butuh investasi guna membuka lapangan pekerjaan dan menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat.

Selain kebutuhan dalam negeri, barang-barang yang diproduksi ini juga bisa dijual ke negara lain (ekspor) –> masyarakat butuh pekerjaan agar dapat berkonsumsi dan membayar pajak –> pemerintah membutuhkan dana dari pajak untuk membangun jembatan, jalan, menjaga pertahanan negara, dan memberikan pelayanan publik (public service).

Investasikonsumsipengeluaranpemerintah, dan ekspor. Empat kata kunci ini menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi keempatnya, maka semakin tinggi pertumbuhan suatu negara.

Nah, pertumbuhan ekonomi Indonesia berhenti di kisaran 5 persen. Masalahnya, Indonesia membutuhkan angka 6 sampai 6,5 persen agar memenuhi kebutuhan seluruh angkatan kerjanya. Di sisi lain, terdapat 2-3 juta orang yang masuk ke pasar tenaga kerja. Jika angka pertumbuhan hanya 5 persen, artinya Indonesia sedang menabung pengangguran.

Masalah lain adalah, trendpertumbuhan kita sedang turun. Artinya jumlah investasi juga sedang menurun. Jika investasi menurun maka lapangan pekerjaan sedang menyempit. Awal bulan ini saja Indosat baru saja mem-PHK 677 karyawannya.

Investasi yang mengecil artinya lapangan kerja menyempit –> masyarakat jadi nggak bekerja dan nggak punya uang, negara ikut nggak punya uang karena pendapatan masyarakat dari pajak berkurang –> masyarakat dan negara pada berhemat –> penurunan angka konsumsi bikin pertumbuhan ekonomi semakin menurun.

Ya ya ya, emang nggak ada cara lain selain menghamba pada investor?

Ada. Cuma masalahnya itu juga sudah dilakukan.

Karena pengeluaran pemerintah juga menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Kementerian PUPR menerima dana yang cukup banyak selama kabinet Jokowi jilid-1. Membangun jalan tol, bandara, pelabuhan, jembatan, dan infrastruktur lainnya membuka tenaga kerja.

Orang-orang yang kerja ini pasti butuh makan, sehingga memunculkan usaha di bidang kuliner, terbuka lagi lapangan kerja. Pengusaha kuliner tadi dapat beras, cabai, minyak, garam, gula, dari mana? Dari petani dan industri pangan tentunya. Kelanjutan cerita ini dapat ditemui di buku pengantar ekonomi terdekat.

Intinya, pengeluaran pemerintah dapat membuat roda ekonomi secara keseluruhan berputar.

Masyarakat juga masih bisa membeli kebutuhan hidupnya seperti makan, minum, dan ngopi cantik di café fancy. Artinya daya beli masyarakat secara keseluruhan tidak tergerus dan konsumsi tetap tinggi (inflasi di bawah 4 persen).

Meskipun pengeluaran pemerintah tinggi dan inflasi terkontrol, nyatanya pertumbuhan ekonomi kita tetap macet di 5 persen. Terus mau gimana lagi kalau bukan dengan meningkatkan investasi dan ekspor melalui Omnibus Law?

Tanpa Omnibus Law lapangan kerja berisiko makin turun

Banyak yang menganggap bahwa membuka investasi dan lapangan pekerjaan tidak ada hubungannya, salah satu orang yang berpikir demikian adalah Dhandy Dwi Laksono.

Dalam laman akun twitternya, Dhandy membagikan sebuah slide yang menolak kaitan antara investasi dengan lapangan kerja. Dengan mengilustrasikan apa yang terjadi selama tahun 2010 hingga 2016 yang mana pertumbuhan investasi cenderung meningkat sementara serapan tenaga kerja tidak.

Apa yang dibilang Dhandy benar, namun tidak sepenuhnya. Ada beberapa alasan kenapa pertumbuhan investasi tidak menyerap tenaga kerja di tahun-tahun tersebut.

Pertama, investasi meningkat tiap tahunnya, akan tetapi terjadi pula inflasi atas harga tenaga kerja. Sadar nggak kalau upah minimum setiap tahun naik di banyak daerah?

Ambil saja contoh Surabaya. Tahun 2010, UMK Surabaya tercatat Rp1.000.000. Tahun 2016, naik 300 persen jadi Rp3.000.000. Artinya, investasi Rp1 trilliun di 2010, tentu berbeda dengan Rp1 trilliun di 2016.

Kedua, investor banyak berinvestasi di sektor yang tidak banyak menyerap tenaga kerja seperti sektor informasi dan komunikasi.

Coba googling aja berapa uang yang sudah “dibakar” di perusahaan-perusahaan start-up seperti Bukalapak, Shopee, Gojek, Grab, Tokopedia. Uangnya digunakan untuk apa? Iklan dan promo, bukan untuk buka lapangan kerja.

Ketiga, pasar tenaga kerja yang tidak kompetitif.

Tidak perlu jauh-jauh ngomongin Vietnam dan Cina untuk hal ini. Jawa Tengah baru saja mengalahkan Jawa Barat dalam hal pembukaan lapangan pekerjaan. Sebanyak 140 pabrik melakukan relokasi ke Jawa Tengahdan banyak di antaranya merupakan pabrik dari Jawa Barat.

Kalau kamu jadi Kang Ridwan Kamil hari ini, apa yang bakal kamu lakukan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi Jawa Barat?

Sama halnya ketika kamu jadi Jokowi; setelah banyak uang digunakan untuk infrastruktur dan inflasi juga terkontrol, apa yang akan kamu lakukan untuk dapat bersaing dengan Vietnam dan Cina?

Investasi tetap menjadi komponen yang penting bagi penciptaan lapangan pekerjaan. Tentu saja dibutuhkan rasionalisasi perhitungan upah, tunjangan, dan pesangon yang dapat menarik investasi tetapi tetap mengindahkan penghidupan yang layak bagi pekerja.

Sampai di sini, saya tahu, mungkin kamu akan menganggap bahwa tulisan ini adalah tulisan dari BuzzeRp alias corong pemerintah. Tak masalah, lagian saya cuma kepingin kita melihat isu Omnibus Law ini dengan adil. Mencoba melihat juga dari sisi lain pula. Toh, secara personal saya juga tidak sepakat sama Omnibus Law kok.

Namun, sebelum kita lebih jauh soal setuju atau tidak setuju, coba kamu cermati data ini.

Tahun 2016, BPS melansir kebutuhan hidup layak (KHL) bagi provinsi Jawa Timur adalah Rp825.000. Sementara di tahun yang sama, upah minimum kota (UMK) yang paling rendah di Jawa Timur berada di Ponorogo, yakni sebesar Rp1.283.000.

Tahun 2019, Dewan Pengupahan Sidoarjo bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melansir angka (KHL) sebesar Rp. 2.500.000. Gubernur Jawa Timur kemudian menetapkan UMK Sidoarjo sebesar Rp3.864.000.

Lah terus masalahnya apa? Bagus dong berarti?

Ya bagus, saya juga senang melihat banyak orang bisa hidup layak plus ada sisa buat hedon lagi. Namun, jarak antara upah minimum dengan KHL terlalu tinggi (40-54 persen) bahkan untuk pekerja dengan keahlian rendah (low skill labor).

Hal ini menandakan terjadinya over-value atas pekerja di Jawa Timur. Belum tentu pengusaha dapat memenuhinya. Yang ada investasi justru ngacir (dan saya tidak ngaco saat mengatakan ini).

Pada tahun yang sama, angka pengangguran di Sidoarjo naik hingga 5,5 persen dikarenakan jumlah angkatan kerja yang meningkat serta PHK yang marak terjadi. Sampai April 2019, sebanyak 38 ribu karyawan telah kena PHK di Sidoarjo.

Relokasi pabrik dari Jawa Barat dan meningkatnya pengangguran di Sidoarjo merupakan satu dari sekian banyak contoh tentang pasar tenaga kerja kita yang tidak kompetitif. Tanpa penghitungan upah yang lebih rasional melalui Omnibus Law, bagaimana kita dapat melindungi mereka dari pengangguran?

Tanpa Omnibus Law timpang tindih peraturan bisa terus terjadi

Sudah sejak lama peraturan di Indonesia mengalami tingkat tumpang tindih yang cukup parah. Apa yang ditentukan di undang-undang (UU) yang satu dapat bertentangan dengan undang-undang yang lain. Apa yang sudah ditentukan oleh pusat, dapat terganjal oleh kewenangan daerah.

Bahkan terobosan pemerintah pusat yakni Online Single Submission (OSS), dapat terganjal oleh peraturan daerah, pegawai kelurahan, bahkan tetangga yang tidak sepakat.

Peraturan-peraturan tersebut tersebar di sektor-sektor tertentu yang jumlahnya cukup banyak. Tidak heran jika Omnibus Law berusaha untuk melakukan penyederhanaan 72 (UU), karena memang esensi dasarnya adalah menghilangkan tumpang tindih peraturan.

Tanpa Omnibus Law negara harus merevisi 72 UU tersebut satu per satu. Jika hal ini yang akan kita lakukan, maka saya akan mengutip perkataan dari Iskandar Simorangkir, “…sampai kiamat nggak selesai.”

Tanpa Omnibus Lawpengusaha harus melewati banyak meja birokrasi untuk dapat membuka usaha. Banyaknya meja birokrasi merupakan pangkal dari maraknya praktik korupsi dan biaya yang membengkak bagi pelaku usaha. Belum memulai usaha sudah harus ke sana ke mari. Kadang kena “rampok” pejabat nakal pula.

Jika saja hanya satu meja yang diperlukan untuk membuka usaha, maka biaya yang dikeluarkan pengusaha dapat ditekan secara signifikan dan korupsi juga dapat ditekan. Lebih mudah mana antara mengawasi satu meja atau banyak meja di banyak tempat pula?


  • 0
    Shares

MOJOK.CO – Mari berpikir adil dengan membayangkan bagaimana jika Omnibus Law benar-benar ditiadakan? Hm, kira-kira apa yang akan terjadi?

Sepertinya bukan hal yang berlebihan jika saya menganggap dunia aktivis kita saat ini adalah soal: “Tolak, tolak, dan tolak!”

Dua aksi yang terjadi di Yogyakarta (Aksi Aksi Gejayan Memanggil Lagi) dan Surabaya (Aliansi Gerakan Tolak Omnibus Law (GETOL)) jadi bukti. Keduanya mengusung tuntutan yang serupa, yakni TOLAK Omnibus Law.

Saya memahami bahwa kedua aksi ini didasarkan pada nilai luhur atas kesejahteraan pekerja. Dan tentu saja mahasiswa juga buruh perlu menunjukkan suara mereka atas peraturan yang nantinya akan berdampak sangat besar dalam kehidupan mereka.

Namun, dari apa yang saya pahami, sungguh tidak bijak jika kita langsung melabeli keseluruhan Omnibus Law sebagai pangkal musibah—sebuah aturan yang hanya akan menghadirkan malapetaka saja.

Layaknya sebuah ide yang bisa disanggah dan diuji. Tulisan ini bermaksud untuk menguji ide Omnibus Law, namun dengan logika yang terbalik.

Kalau para “Social Justice Warriors” (SJW’s) telah menyampaikan banyak catatan kritis tentang Omnibus Law. Saya justru akan mengujinya dengan eksperimen: bagaimana jika Omnibus Law benar-benar ditiadakan? Apa yang akan terjadi?

Tanpa Omnibus Law kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi bakal turun

Suka atau tidak suka, trendpertumbuhan ekonomi kita mengalami perlambatan. Periode pertama pemerintahan Jokowi, ekonomi hanya tumbuh di kisaran 5 persen.

Mengapa pertumbuhan ekonomi itu penting?

Mudahnya begini. Jika kamu punya duit Rp1000 dan kemudian setelah bekerja—entah jadi pengusaha atau pegawai—dapat duit Rp500, berarti ekonomi kamu bertumbuh sebanyak 50%. Uang yang didapatkan dari pertumbuhan ini tentu saja bisa menjadi tambahan untuk membiayai kebutuhan pokok kayak sandang, pangan, papan, pacar, dan party. Eh.

Sekarang bayangkan kegiatan ekonomi yang kecil itu dalam skala negara. Tentu saja lebih kompleks, namun prinsipnya sama.

Begini misalnya. Negara butuh investasi guna membuka lapangan pekerjaan dan menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat.

Selain kebutuhan dalam negeri, barang-barang yang diproduksi ini juga bisa dijual ke negara lain (ekspor) –> masyarakat butuh pekerjaan agar dapat berkonsumsi dan membayar pajak –> pemerintah membutuhkan dana dari pajak untuk membangun jembatan, jalan, menjaga pertahanan negara, dan memberikan pelayanan publik (public service).

Investasikonsumsipengeluaranpemerintah, dan ekspor. Empat kata kunci ini menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Semakin tinggi keempatnya, maka semakin tinggi pertumbuhan suatu negara.

Nah, pertumbuhan ekonomi Indonesia berhenti di kisaran 5 persen. Masalahnya, Indonesia membutuhkan angka 6 sampai 6,5 persen agar memenuhi kebutuhan seluruh angkatan kerjanya. Di sisi lain, terdapat 2-3 juta orang yang masuk ke pasar tenaga kerja. Jika angka pertumbuhan hanya 5 persen, artinya Indonesia sedang menabung pengangguran.

Masalah lain adalah, trendpertumbuhan kita sedang turun. Artinya jumlah investasi juga sedang menurun. Jika investasi menurun maka lapangan pekerjaan sedang menyempit. Awal bulan ini saja Indosat baru saja mem-PHK 677 karyawannya.

Investasi yang mengecil artinya lapangan kerja menyempit –> masyarakat jadi nggak bekerja dan nggak punya uang, negara ikut nggak punya uang karena pendapatan masyarakat dari pajak berkurang –> masyarakat dan negara pada berhemat –> penurunan angka konsumsi bikin pertumbuhan ekonomi semakin menurun.

Ya ya ya, emang nggak ada cara lain selain menghamba pada investor?

Ada. Cuma masalahnya itu juga sudah dilakukan.

Karena pengeluaran pemerintah juga menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Kementerian PUPR menerima dana yang cukup banyak selama kabinet Jokowi jilid-1. Membangun jalan tol, bandara, pelabuhan, jembatan, dan infrastruktur lainnya membuka tenaga kerja.

Orang-orang yang kerja ini pasti butuh makan, sehingga memunculkan usaha di bidang kuliner, terbuka lagi lapangan kerja. Pengusaha kuliner tadi dapat beras, cabai, minyak, garam, gula, dari mana? Dari petani dan industri pangan tentunya. Kelanjutan cerita ini dapat ditemui di buku pengantar ekonomi terdekat.

Intinya, pengeluaran pemerintah dapat membuat roda ekonomi secara keseluruhan berputar.

Masyarakat juga masih bisa membeli kebutuhan hidupnya seperti makan, minum, dan ngopi cantik di café fancy. Artinya daya beli masyarakat secara keseluruhan tidak tergerus dan konsumsi tetap tinggi (inflasi di bawah 4 persen).

Meskipun pengeluaran pemerintah tinggi dan inflasi terkontrol, nyatanya pertumbuhan ekonomi kita tetap macet di 5 persen. Terus mau gimana lagi kalau bukan dengan meningkatkan investasi dan ekspor melalui Omnibus Law?

Tanpa Omnibus Law lapangan kerja berisiko makin turun

Banyak yang menganggap bahwa membuka investasi dan lapangan pekerjaan tidak ada hubungannya, salah satu orang yang berpikir demikian adalah Dhandy Dwi Laksono.

Dalam laman akun twitternya, Dhandy membagikan sebuah slide yang menolak kaitan antara investasi dengan lapangan kerja. Dengan mengilustrasikan apa yang terjadi selama tahun 2010 hingga 2016 yang mana pertumbuhan investasi cenderung meningkat sementara serapan tenaga kerja tidak.

Apa yang dibilang Dhandy benar, namun tidak sepenuhnya. Ada beberapa alasan kenapa pertumbuhan investasi tidak menyerap tenaga kerja di tahun-tahun tersebut.

Pertama, investasi meningkat tiap tahunnya, akan tetapi terjadi pula inflasi atas harga tenaga kerja. Sadar nggak kalau upah minimum setiap tahun naik di banyak daerah?

Ambil saja contoh Surabaya. Tahun 2010, UMK Surabaya tercatat Rp1.000.000. Tahun 2016, naik 300 persen jadi Rp3.000.000. Artinya, investasi Rp1 trilliun di 2010, tentu berbeda dengan Rp1 trilliun di 2016.

Kedua, investor banyak berinvestasi di sektor yang tidak banyak menyerap tenaga kerja seperti sektor informasi dan komunikasi.

Coba googling aja berapa uang yang sudah “dibakar” di perusahaan-perusahaan start-up seperti Bukalapak, Shopee, Gojek, Grab, Tokopedia. Uangnya digunakan untuk apa? Iklan dan promo, bukan untuk buka lapangan kerja.

Ketiga, pasar tenaga kerja yang tidak kompetitif.

Tidak perlu jauh-jauh ngomongin Vietnam dan Cina untuk hal ini. Jawa Tengah baru saja mengalahkan Jawa Barat dalam hal pembukaan lapangan pekerjaan. Sebanyak 140 pabrik melakukan relokasi ke Jawa Tengahdan banyak di antaranya merupakan pabrik dari Jawa Barat.

Kalau kamu jadi Kang Ridwan Kamil hari ini, apa yang bakal kamu lakukan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi Jawa Barat?

Sama halnya ketika kamu jadi Jokowi; setelah banyak uang digunakan untuk infrastruktur dan inflasi juga terkontrol, apa yang akan kamu lakukan untuk dapat bersaing dengan Vietnam dan Cina?

Investasi tetap menjadi komponen yang penting bagi penciptaan lapangan pekerjaan. Tentu saja dibutuhkan rasionalisasi perhitungan upah, tunjangan, dan pesangon yang dapat menarik investasi tetapi tetap mengindahkan penghidupan yang layak bagi pekerja.

Sampai di sini, saya tahu, mungkin kamu akan menganggap bahwa tulisan ini adalah tulisan dari BuzzeRp alias corong pemerintah. Tak masalah, lagian saya cuma kepingin kita melihat isu Omnibus Law ini dengan adil. Mencoba melihat juga dari sisi lain pula. Toh, secara personal saya juga tidak sepakat sama Omnibus Law kok.

Namun, sebelum kita lebih jauh soal setuju atau tidak setuju, coba kamu cermati data ini.

Tahun 2016, BPS melansir kebutuhan hidup layak (KHL) bagi provinsi Jawa Timur adalah Rp825.000. Sementara di tahun yang sama, upah minimum kota (UMK) yang paling rendah di Jawa Timur berada di Ponorogo, yakni sebesar Rp1.283.000.

Tahun 2019, Dewan Pengupahan Sidoarjo bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melansir angka (KHL) sebesar Rp. 2.500.000. Gubernur Jawa Timur kemudian menetapkan UMK Sidoarjo sebesar Rp3.864.000.

Lah terus masalahnya apa? Bagus dong berarti?

Ya bagus, saya juga senang melihat banyak orang bisa hidup layak plus ada sisa buat hedon lagi. Namun, jarak antara upah minimum dengan KHL terlalu tinggi (40-54 persen) bahkan untuk pekerja dengan keahlian rendah (low skill labor).

Hal ini menandakan terjadinya over-value atas pekerja di Jawa Timur. Belum tentu pengusaha dapat memenuhinya. Yang ada investasi justru ngacir (dan saya tidak ngaco saat mengatakan ini).

Pada tahun yang sama, angka pengangguran di Sidoarjo naik hingga 5,5 persen dikarenakan jumlah angkatan kerja yang meningkat serta PHK yang marak terjadi. Sampai April 2019, sebanyak 38 ribu karyawan telah kena PHK di Sidoarjo.

Relokasi pabrik dari Jawa Barat dan meningkatnya pengangguran di Sidoarjo merupakan satu dari sekian banyak contoh tentang pasar tenaga kerja kita yang tidak kompetitif. Tanpa penghitungan upah yang lebih rasional melalui Omnibus Law, bagaimana kita dapat melindungi mereka dari pengangguran?

Tanpa Omnibus Law timpang tindih peraturan bisa terus terjadi

Sudah sejak lama peraturan di Indonesia mengalami tingkat tumpang tindih yang cukup parah. Apa yang ditentukan di undang-undang (UU) yang satu dapat bertentangan dengan undang-undang yang lain. Apa yang sudah ditentukan oleh pusat, dapat terganjal oleh kewenangan daerah.

Bahkan terobosan pemerintah pusat yakni Online Single Submission (OSS), dapat terganjal oleh peraturan daerah, pegawai kelurahan, bahkan tetangga yang tidak sepakat.

Peraturan-peraturan tersebut tersebar di sektor-sektor tertentu yang jumlahnya cukup banyak. Tidak heran jika Omnibus Law berusaha untuk melakukan penyederhanaan 72 (UU), karena memang esensi dasarnya adalah menghilangkan tumpang tindih peraturan.

Tanpa Omnibus Law negara harus merevisi 72 UU tersebut satu per satu. Jika hal ini yang akan kita lakukan, maka saya akan mengutip perkataan dari Iskandar Simorangkir, “…sampai kiamat nggak selesai.”

Tanpa Omnibus Lawpengusaha harus melewati banyak meja birokrasi untuk dapat membuka usaha. Banyaknya meja birokrasi merupakan pangkal dari maraknya praktik korupsi dan biaya yang membengkak bagi pelaku usaha. Belum memulai usaha sudah harus ke sana ke mari. Kadang kena “rampok” pejabat nakal pula.

Jika saja hanya satu meja yang diperlukan untuk membuka usaha, maka biaya yang dikeluarkan pengusaha dapat ditekan secara signifikan dan korupsi juga dapat ditekan. Lebih mudah mana antara mengawasi satu meja atau banyak meja di banyak tempat pula?

Demikian tiga hal yang akan terjadi jika Indonesia tidak memiliki Omnibus Law. Tidak adil rasanya jika kita hanya melihat Omnibus Law sebagai pangkal malapetaka, meskipun juga tak adil kalau melihat Omnibus Law sebagai barang sakti untuk jadi satu-satunya solusi. Ada dilematika yang harus diperhitungkan secara cermat dan hati-hati.

Dimensi kritis terhadap Omnibus Law tidak boleh dihilangkan. Saya tidak bermaksud untuk menafikan ide-ide yang lain, namun mencoba untuk melihat apa yang akan terjadi saat kita hanya melakukan segala hal seperti biasanya tanpa ide perubahan yang jelas.

Justru melalui ini, saya berharap munculnya ide yang lebih baik lagi selain menghilangkan cuti haid, tunjangan, dan pasal pidana bagi perusak lingkungan yang sudah benar dikritik oleh para aktivis dalam Omnibus Law ini.

Untuk itulah saya justru ingin bertanya kepada seluruh SJW di bumi Indonesia, jika detik ini kamu-kamu yang memegang tampuk kepemimpinan Indonesia, apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasi hal ini?

Menolak Omnibus Law yang berisiko menambah pengangguran, atau menerima Omnibus Law yang berisiko menghilangkan sebagian besar hak buruh?

Pusing kan? Nah, gitu dong. Saya kan jadi ada temannya.(as)