Kemerdekaan yang tertunda _
103 tahun bukan waktu yang sedikit.
Hidup serba kekurangan.
Harkat dan martabat diinjak injak,
Sengsara adalah hal yang lumrah waktu itu, bahkan nyawa sekalipun.
Kini,
Sudah 74 kita bebas dari semua kisah pilu itu.
Kita bebas, kita merdeka.
Tidak pernah lagi merasakan kisah itu.
Tapi,
Apakah kita telah merasakan semuanya itu.
Merasakan kemerdekaan dan kebebasan dari semua itu?
Mungkin iya.
Tapi belum bagi saya.
Kita belum merdeka.
Belum merdeka dari negara sendiri.
Kita masih dijiajah.
Dijajah oleh penjajah bangsa sendiri.
Kesenjangan Dimana mana.
Penindasan masih terjadi.
Kita belum merdeka.
Belum merdeka dari negara sendiri.
Sungguh.
Bukan lagi kejam melainkan keji.
Hidup serba kekurangan.
Harkat dan martabat diinjak injak,
Sengsara adalah hal yang lumrah waktu itu, bahkan nyawa sekalipun.
Kini,
Sudah 74 kita bebas dari semua kisah pilu itu.
Kita bebas, kita merdeka.
Tidak pernah lagi merasakan kisah itu.
Tapi,
Apakah kita telah merasakan semuanya itu.
Merasakan kemerdekaan dan kebebasan dari semua itu?
Mungkin iya.
Tapi belum bagi saya.
Kita belum merdeka.
Belum merdeka dari negara sendiri.
Kita masih dijiajah.
Dijajah oleh penjajah bangsa sendiri.
Kesenjangan Dimana mana.
Penindasan masih terjadi.
Kita belum merdeka.
Belum merdeka dari negara sendiri.
Sungguh.
Bukan lagi kejam melainkan keji.
Sudahkah kita merdeka.
#Tino ValLent.
#Komunitas_Puisi_Indonesia
#Komunitas_Puisi_Indonesia

